Sabtu, 30 Juni 2018

Demokrasi di Indonesia

Pada mata kuliah Kewarganegaraan hari itu, belajar mengenai Demokrasi di Indonesia. Namun, kami memang membahas Demokrasi di Indonesia. Tapi yang paling berkesan ketika bermain game demokrasi yaitu kami musti memiliki calon "Presiden" dan seolah kami adalah "Rakyat". Menarik dan berkesan sekali.
Dapat ditarik kesimpulan, bahwa secara realistis demokrasi di Indonesia belum begitu nyata dan fair. Bahkan kadang pemimpin yang menang bukan purely hasil kerja calon pemimpin tersebut, melainkan rakyat masih banyak yang memilih berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. Tidak jarang pula yang memilih golput karena buta politik (tidak tahu mau memilih siapa dan tidak kenal dengan calon pemimpinnya), justru visi misi dapat dinomor duakan oleh rakyat untuk memilih para wakil rakyat.

Artikel:
Demokrasi di Indonesia adalah suatu proses sejarah dan politik perkembangan demokrasi di dunia secara umum, hingga khususnya di Indonesia, mulai dari pengertian dan konsepsi demokrasi menurut para tokoh dan founding fathers Kemerdekaan Indonesia, terutama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Soetan Sjahrir. Selain itu juga proses ini menggambarkan perkembangan demokrasi di Indonesia, dimulai saat Kemerdekaan Indonesia, berdirinya Republik Indonesia Serikat, kemunculan fase kediktatoran Soekarno dalam Orde Lama dan Soeharto dalam Orde Baru, hingga proses konsolidasi demokrasi pasca Reformasi 1998 hingga saat ini. (sumber: Wikipedia)

Nilai nilai demokrasi
1. Menjamin tegaknya keadilan (Ensure Justice)
2. Penggunaan kebebasan bertanggungjawab
3. Kepemimpinan dipilih secara teratur sehingga tidak tercipta rezim
4. Penyelesaian sengketa ataupun perselisihan atau konflik (baca pengertian konflik) dapat diselesaikan secara kelembagaan (jalur hukum) ataupun jalur damai
5. Perubahan sosial kemasyrakatan yang mengarah ke perkembangan kemajuan dapat terjadi dengan aman menjamin terselenggaranya perubahan dalam masyarakat secara damai/ tampa gejolak
6. Pengakuan terhadap keanekaragaman. Untuk demokrasi pancasila hal ini bukan masalah karena telah menjadi unsur dalam demokrasi pancasila




Integrasi Bangsa

Pada pertemuan Pendidikan Kewarganegaraan pada tanggal 27-03-2018.

Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional.

Berikut Faktor pendorong Integrasi Nasional adalah:
1. Adanya rasa yang senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor-faktor sejarah.
2. Adanya ideologi nasional yang tercermin di dalam simbol negara yakni Garuda Pancasila dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
3. Adanya sikap tekad dan keinginan untuk kembali bersatu di dalam kalangan Bangsa Indonesia seperti yang telah dinyatakan di dalam Sumpah Pemuda.
4. Adanya ancaman dari luar yang menyebabkan adanyadan munculnya semangat nasionalisme dalam kalangan Bangsa Indonesia.

Faktor penghabambat integrasi nasional:
1. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang memiliki sifat heterogen.
2. Kurangnya toleransi antar sesama golongan.
3. Kurangnya kesadaran di dalam diri masing-masing rakyat Indonesia terhadap segala ancaman dan gangguan yang mucul dari luar.
4. Adanya sikap ketidakpuasan terhadap segala ketimpangan dan ketidak merataan hasil pembangunan.

Integrasi nasional penting untuk diwujudkan dalam kehidupan masyrakat Indonesia dikarenakan Indonesia merupakan negara yang masih berkembang atau dapat dikatakan negara yang masih mencari jati diri. Nah, maka dari itu kita perlu mendorong integrasi nasional juga mendukung. Ini cara mendukungnya.......
Kita bangga dengan bahasa Indonesia, bangga dengan produk lokal, semangat dalam persatuan Indonesia, semangat bergotong royong, dan memiliki rasa sadar akan kesamaan senasib pada masa penjajahan masa lalu.

Kalau bukan kita? Siapa lagi!

Minggu, 24 Juni 2018

Pendidikan Seni Rupa: "Creative and Mental Growth"


Resume:

Setiap usia anak memiliki karakteristik yang berbeda beda seperti pada umur dua hingga empat tahun karena gambar anak akan mengalami perubahan bentuk baik secara struktur maupun penambahan ruang dan waktu. Sehingga perlu pemahaman terhadap setiap periodisasi usia perkembangan anak. Lowenfeld merangkum perkembangan anak menjadi 6 tahapan mulai dari usia 2 sampai 17 tahun, dimana anak sudah mulai dewasa.

            Pola pikir kreatif dan ekspresif berpengaruh besar dalam tahap-tahapan ini. Apabila tidak diasah, maka anak akan berkembang memiliki pola pikir kaku dan tidak emosional.
            Maka dari itu sangat esensial bagi kita untuk mempelajari periodisasi ini supaya kita akan lebih mudah memahami karakteristik anak lewat karya seni. Berikut Tahapan menurut Viktor Lowendfeld dan Lambert Brittain dalam buku “Creative and Mental Growth” yang telah saya rangkum.


A.    Masa Mencoreng
Masa Mencoreng/Mencoret (Scribbling Period)
1.              Pentingnya Anak Usia Dini
Pada awal usia anak terutama 2 hingga 4 tahun adalah yang terpenting pada masa perkembangan dalam pertumbuhannya. Pada masa ini untuk mempelajari pola kebiasaan, sikap perilaku, dan mulai terbentuknya jati diri. Seni dapat membantu dalam mengembangkan  pada interaksi antara anak dan lingkungannya serta bagaimana mengambil tempatnya.

2.         Perkembangan Tahap Pencorengan
Didalam tahapan menggambar anak, terdapat pula umum perkembangan dari hasil coretan atau gambar anak. Pola tersebut dumulai dari sejak anak menghasilkan coretan-coretan yang tak terarah hingga dapat membuat gambar yang sesuai dengan objek yang digambarkan.
Aktifitas motorik yang terwujud dalam goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali dan warna tidak begitu penting. Ada tiga tahap coreng moreng.
           Corengan Tak Beraturan
Pertama: coreng tak beraturan, bentuk sembarang, mencoreng tanpa melihat kertas belum dapat membuat lingkaran dan bersemangat. Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gambar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
           Corengan yang mulai terkendali
Kedua: corengan terkendali, menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya. Terdapat perkembangan koordinasi antara perkembangan visual dan motorik serta semangat. Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertikal, lengkung , bahkan lingkaran.
Tahap ini berkembang mulai dari usia 2 tahun pada saat anak mulai dapat menggemgam dan mencorengkan alat tulis atau gambar secara acak hingga pada suatu saat ia dapat dengan “cara kebetulan” mewujudkan satu gambar yang dapat diasosiasikannya dengan bentuk nyata. Coreng mencoreng yang dibuat mula-mula merupakan goresan yang tidak menentu, tebel tipis terganting pribadi anak. Lama kelamaan anak menyadari adanya hubungan yang dibuatnya antara gerkan tangannya dengan hasil yang diperolehnya. Karenanya berarah goresannya menjadi panjang, bolak-balik kemudian bulat-bulat.
           Corengan yang Bernama
Ketiga: coretan bernama, bentuk semakin bervariasi mulai memberi nama pada hasil coretan, membutuhkan waktu banyakan warna mulai diperhatikan. Pada saat terakhir dari masa mencoreng ini anak mulai memberi nama goresan-goresanya, dan berubahlah garis-garis yang tidak menentu menjadi lebih terkendali. Dalam masa ini anak perlu dibina dengan memberikan stimulasi-stimulasi yang tepat serta mengaktifkan imajiasinya. Biasanya terjadi  menjelang  usia  3-4  tahun,  sejalan  dengan  perkembangan  bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama,  misalnya:  “rumah”, “mobil”,  “kuda”.  Hal  ini  dapat  digunakan  oleh  orang  tua  atau  guru  pada  jenjang pendidikan  usia  dini  (TK)  dalam  membangkitkan  keberanianan  anak  untuk mengemukakan  kata-kata  tertentu  atau  pendapat  tertentu  berdasarkan  hal  yang digambarkannya.

Secara rinci proses mencoreng yang dialami oleh usia tersebut selalu dimulai dengan corengan-corengan mendatar, kemudian menegak dan diakhiri dengan melingkar-lingkar.
Corengan mendatar terjadi disebabkan karena gerak sendi-sendi yang mash terbatas pada sendi besar, itu pun masih sedikit kaku, gerak sendi yang digunakan lebih sederhana yaitu gerakan sendi sendi pangkal lengan saja. Gerakan tersebut diulangi oleh anak dengan rasa yang menyenangkan.
Tahap berikutnya setelah gerakan pada sendi besar yaitu gerakan yang berpangkal pada seni di pangkal lengan dan sikut yang bergerak secara bersamaan. Goresan yang di hasilkan ialah goresan-goresan menegak.
Dengan ukuran tangan yang relatif masih pendek dan bidang gambar yang relatif kecil, maka kemampuan anak hanya akan menggambarkan garis tegak. Untuk memperoleh garis yang panjang, biasanya anak mencari bidang gambar yang lebar. Yang terjadi yaitu anak menggambar pada tembok. Tembok dianggap bidang gambar yang memenuhi syarat.
Dengan senangnya anak membawa alat gambar dan mencorengnya pada tembok. Jika ingin garisnya panjang mendatar, maka ia akan berjalan keseluruh ruang dengan menggoreskan alat gambarnya. Setelah puas dengan tahap tersebut, anak mulai membangun bentuk pada coretannya. Biasanya dibentuk dalam melingkar-lingkar.

3.         Arti Warna
Pengalaman mencoreng, kemudian, terutama merupakan aktivitas motorik. Pada kepuasan pertama berasal dari pengalaman gerak kinestetik, selanjutnya dari kontrol visual dari garis-garis ini, dan akhirnya dari hubungan garis-garis ini ke dunia luar. warna, oleh karena itu, memainkan peran bawahan yang jelas dalam tahap penulisan. Hal ini terutama terjadi ketika anak melakukan koordinasi motorik. Pilihan banyak warna terkadang bisa membuat anak-anak tidak mencoret-coret. Anak itu perlu bisa membedakan tanda dari sisa halaman. Oleh karena itu, perlu untuk memilih bahan gambar yang akan memberikan kontras yang kuat. Krayon hitam di atas kertas putih di papan tulis lebih disukai daripada warna yang mungkin tidak memberi kontras ini. Pada tahap ini anak usia 2-4 tidak terlalu memikirkan mengenai warna dan karakteristik warna yang digunakannya dalam mencoret. Apalagi pada segi emosional, tentunya anak masa ini belum mengerti mengenai karakter makna warna tersendiri dan lebih memilih untuk menselaraskan dengan selera apa yang ia sukai. Seperti lingkaran berwarna biru, dan segitiga berwarna cokelat. Hal tersebut spontan dipilih sesuai keinginan mereka.

4.         Lingkungan dan Proses Perkembangannya
Anak-anak memiliki jiwa bebas dan ceria. Mereka sangat menyenangi warna-warna cerah, misalnya pada crayon. Kesenangan menggunakan warna biasanya setelah ia bisa memberikan judul terhadap karya yang dibuatnya. Penggunaan warna pada masa ini lebih menekankan pada penguasaan teknik mekanik penempatan warna berdasarkan kepraktisan penempatannya dibandingkan dengan kepentingan aspek emosi.
Pada masa mencoreng, bila anak difasilitasi oleh orang tua, maka akan memiliki peluang untuk melakukan kreasi dalam hal garis dan bentuk, mengembangkan koordinasi gerak, dan mulai menyadari ada hubungan antara gambar dengan lingkungannya. Hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh orangtua dan guru pada masa ini adalah dengan memberi perhatian terhadap karya yang sedang dibuat anak, sehingga tercipta kemampuan komunikasi anak dengan orang dewasa melalui bahasa visual.

5.         Mencoreng sebagai Cerminan Pertumbuhan
Proses pertumbuhannya berlanjut, tapi tidak mulus. Hal ini bisa dilihat pada pertumbuhan fisik anak. Meskipun kita dapat mengatakan bahwa anak-anak dari usia tertentu memiliki tinggi rata-rata dalam beberapa inci, kita menemukan perbedaan besar pada individu; Lonjakan pertumbuhan mendadak, terutama selama masa remaja, membuat kita sadar bahwa pertumbuhan sangat tidak merata. Hal yang sama juga berlaku untuk perkembangan anak kecil. Kami telah mengatakan bahwa seni adalah cerminan reaksi manusia terhadap lingkungannya; Pada tahap penulisan ini mudah dilihat, karena mencoret-coret bisa dianggap sebagai cerminan perkembangan fisik dan emosional anak. Sama seperti kita menemukan perbedaan dalam pertumbuhan, kita juga menemukan perbedaan individu yang besar dalam penulisan anak-anak.

6.         Motivasi Seni
Biasanya pada tahap pertama pencoretan tidak ada motivasi khusus yang dibutuhkan kecuali untuk memberi anak itu hak kepada anak dengan materi dan dorongan yang tepat untuk melanjutkan aktivitas. Sebagian besar anak-anak dengan penuh semangat menutupi dua atau tiga lembar kertas dengan coretan. Anak yang sangat muda akan terus melakukan aktivitas ini tidak lebih dari beberapa menit. anak berusia empat tahun, jika dia sampai pada penamaan tahap penulisan, atau jika dia diperkenalkan dengan materi baru, boleh melakukan kegiatan ini selama 20 sampai 20 menit. Namun, tidak ada jam yang harus menentukan berapa lama seorang anak dapat menghabiskan waktu untuk mengekspresikan dirinya di atas kertas. Selama tahap pertama penulisan, tidak ada motivasi khusus yang diperlukan, sedangkan topik yang disarankan anak pada tahap penulisan terakhir sangat sesuai untuk memperpanjang proses berpikirnya.
Idealnya, setiap anak harus termotivasi untuk mengekspresikan dirinya dan merasa puas dengan prosesnya. Karena mencoret-coret adalah awal dari ekspresi kreatif, sangat penting saat ini untuk memberinya kebebasan dan tanggung jawab atas karyanya sendiri.

7.         Materi Seni
Pada anak usia dini, anak biasanya menggunakan alat dan bahan yang sederhana, dan tentunya mudah dipakai pada usia anak anak. Seperti clay tanah liat yang dapat dibentuk bentuk, menggunakan cat air secara sederhana, juga dapat dengan crayon beraneka warna yang simple dan mudah digunakan saat mencoret coret dikertas ataupun pada dinding.

B.    Masa Prabagan
Masa Pra Bagan (Pre Schematic Period)
1.   Pentingnya Tahap Preschematic
Pada tahap ini, usia 4-7 tahun telah mengalami akhir daripada masa mencoreng yang mulai menamai coretan dan mengkomunikasikan secra visual kepada orang disekitarnya secara sederhana. Dengan itu perkembangan pada tahap ini juga sangat penting. Saat ini anak mulai membuat relasi dengan sekitanya. Pada tahap ini, perilaku kebiasaan mencoreng perlahan akahn hilang kemudian mulai mengkaitkan dengan linkungan disekitarnya dan mulai membentuk tanda dan gambar yang jelas. Karena ini memberikan perasaan yang menyenangkan kepada anak.
2.   Karakteristik Gambar Masa Pra Bagan (Pre Schematic)
Usia anak pada tahap ini biasanya berada pada jenjang PAUD/TK dan Sekolah Dasar kelas awal. Kecenderungan umum pada tahap ini, obyek yang digambar anak biasanya berupa gambar kepala-berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan kepala, kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.
Ciri-ciri yang menarik lainnya, pada tahap ini anak telah menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris untuk memberi kesan obyek dari dunia sekitarnya. Koordinasi tangan lebih berkembang. Aspek warna belum ada hubungan tertentu dengan obyek, orang bisa saja berwarna biru, merah, coklat, atau warna lain yang anak kehendaki.
Penempatan dan ukuran obyek bersifat subyektif, didasarkan kepada kepentingannya. Jika obyek gambar lebih dikenalinya, seperti ayah dan ibu, maka gambar dibuat lebih besar dari yang lainnya. Hal ini dinamakan dengan perspektif batin. Penempatan obyek dan penguasaan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
Pada tahap ini anak mampu menjelajah hubungan antara menggambar, berpikir, dan kenyataan. Secara garis besar karakteristik tahap pra-skematik adalah sebagai berikut.
a.     Dilakukan oleh anak yang berusia 4 – 7 tahun.
b.  Anak, dalam memilih warna, tidak berdasarkan kenyataan tetapi berdasarkan warna kesukaannya.
c.  Anak menggambar orang dalam format yang sederhana dengan menonjolkan ciri utama, misalnya mata dan rambut.
d.    Gambar orang yang dibuat anak seperti kecebong, kepala berukuran besar, badan kecil kurus dan tangan yang panjang.
e.      Objek yang digambar mengambang, tidak digambar sesuatu di mana objek tadi berada, misalnya tanah, lantai, meja, dst.
f.       Anak menggambar “dengan  sinar X”, seolah-olah isi rumah terlihat semua dari luar meskipun ada dindingnya.. Misalnya gambar rumah terlihat pula isinya seperti meja – kursi, almar, tempat tidur, dst.

3.   Makna daripada Warna
Selama tahap usaha representasi pertama, minat dan kegembiraan yang lebih tinggi dirangsang melalui hubungan gambar ke objek daripada antara warna dan objek. Anak telah mulai secara sadar menciptakan bentuk dan bentuk itulah yang menjadi penting. Ini tidak berarti bahwa anak-anak di tahap preschematic tidak sadar akan warna, tapi ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membuat bentuk pilihan mereka sendiri mendominasi pemikiran mereka. Dalam menggambar dan melukis yang dilakukan oleh anak-anak usia tiga ini seringkali sedikit hubungan antara warna yang dipilih untuk melukis objek dan objek yang diwakili. Ini tidak berarti bahwa warna ini tidak memiliki arti penting bagi anak yang menggunakannya. 
Bagi anak-anak seusia ini, penggunaan warna bisa menjadi pengalaman seru. Meskipun anak tersebut tidak memiliki keinginan untuk hubungan warna yang tepat, ia dapat dan menikmati penggunaan warna demi kepentingannya sendiri.
4.   Arti Ruang
Representasi ruang dalam gambar atau lukisan oleh seniman dewasa berbeda secara luas, tidak hanya bergantung pada seniman individual tetapi juga pada budaya di mana ia menemukan dirinya sendiri. Gambar seorang anak di tingkat representasi pertama menunjukkan konsep ruang yang sangat berbeda dari yang dimiliki orang dewasa.
Ketidakmampuan anak untuk saling berhubungan satu sama lain pada suatu ruang, dalam gambarnya, adalah indikasi yang jelas bahwa dia belum siap untuk bekerja sama secara sosial dan bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu sama lain untuk dipelajari untuk dibaca.
Untuk mencoba setiap anak seusia ini konsep representasi ruang dewasa tidak hanya membingungkan, tapi sebenarnya bisa merusak kepercayaan anak terhadap karya kreatifnya sendiri. Tidak akan ada pemahaman bahwa representasi itu selain benar. Konsep anak tentang lingkungannya sama validnya dengan kebiasaan orang dewasa.
5.   Perkembangan Anak Usia Empat hingga Tujuh Tahun
Perkembangan anak sangat berbeda beda pada usia ini. Setiap anak adalah sebuah produk dari latar belakang yang berbeda beda, tentunya orang tua dan lingkungan juga berbeda. Pada suatu penelitian di Findland, telah ditemukan bahwa orang tea yang memiliki ketertarikan pada seni dan kreatifitas  memiliki pengaruh yang sangat tinggi kepada anak, keluwesan, dan keaslian. Menurut literatur psikologis bahwa usia ini adalah waktu yang tepat untuk perkembangan intelektual yang baik, dukungan dari hubungan keluarga yang harmonis, dan bahkan pengaruh makanan bergizi dapat mempengaruhi energi anak dan perilaku anak saat ini.
Kita dapat berharap bahwa seni anak akan mengikuti pola perkembangan yang sama dengan aspek pertumbuhan lainnya. Sebenarnya, penelitian tentang gambar anak-anak dapat memberi kita wawasan besar tentang metode dan penalaran di balik tindakannya. Mungkin juga untuk menyebutkan bahwa meskipun ada kecenderungan umum dan jalur perkembangan yang dapat diprediksi dengan jelas yang terlihat dalam gambar, ini tidak datang secara otomatis. Sebaliknya, berkembang dalam percikan, dan terkadang anak-anak akan kembali ke tahap awal. Tidak semua pertumbuhan berjalan dengan lancar.
6.   Gambar Pre Schematic sebagai Cerminan Pertumbuhan
Menggambar adalah latihan yang jauh lebih menyenangkan. Ini berarti dengan mana dia mengembangkan hubungan dan membuat konkret beberapa pemikiran samar yang mungkin penting baginya. menggambar menjadi dirinya sendiri pengalaman belajar. Meskipun anak-anak dapat mengenali dan memberi nama banyak benda di sekitar mereka, objek ini bisa jadi agak sesuai dengan pemikiran fungsional anak. Satu studi mencoba membandingkan bagaimana anak berusia lima tahun mengenali lengan dan kaki yang hilang atau cacat pada gambar orang yang tidak lengkap.
Seorang anak yang telah mencapai usia kronologis empat atau lima tahun dan masih berpikir dalam gerakan yang tidak meningkat secara intelektual ke tahap pertumbuhan rata-rata. Dalam melihat lebih dari serangkaian gambar oleh anak berusia lima tahun, biasanya kita akan mengeksploitasi beberapa usaha representasional. Semakin banyak percobaan ini, semakin tinggi proses intelektual yang telah dikembangkan.
Gambar mencerminkan perkembangan anak dengan jujur, tapi terkadang orang dewasa bisa disesatkan oleh kata-kata yang digunakan anak-anak. Ini adalah usia ketika pola perilaku awal terbentuk dimana seorang anak dapat berkembang menjadi orang dewasa yang kreatif atau dengan mana ia dapat mengembangkan ketergantungan dalam pemikirannya.
7.   Motivasi Seni
Baynak motivasi yang membuat pengalaman seni lebih banyak melebihihanya sekadar aktivitas., ini dapat meningkatkan pula kesadaran anak terhadap lingkungan sekitarnya dan membuat anak merasakan bahwa seni dan kegiatannya adalah hal yang peting dan diperlukan. Pada suatu studi bahwa motivasi seni ini adalh bentuk potensi perkembangan anak untuk mengenal dan sadar dengan kondisi disekitarnya. Pada studi lain juga yang menyatakan bahwa pentingnya peran guru dan pendidik sebagai pendukung perkembangan si anak. Seperti misalkan pada anak usia empat tahun yang sulit untuk mengidentifikasi benda disekitarnya, namun oleh karena adanya pendidik makan seorang guru atau orang tua akan membantu pola pikir anak untuk mengidentifikasi benda yang ada pada sekelilingnya tersebut. Pada usia ini juga kemampuan perseptual anak sedang berkembang, dan seni turut mengokong perkembangan tersebut. Pada pembelajaran mengenai motivasi anak dapat secara aktif melibatkan pengalaman yang nyata kepada anak. Sebuah motivasi yang didasarkan terutama pada mengingat sesuatu di mana semua anak didik telah dilibatkan harus memberi kesempatan kepada setiap anak untuk mengungkapkan perasaan dan emosinya sendiri dengan caranya sendiri.
8.   Materi Pembelajaran
Yang paling penting pada pemilihan ide atau topic sebuah pembelajaran bagi anak adalah makna daripada sebuah aktivitas yang dilakukan anak. Pada masa pertembuhuan usia ini harus lebih mempekakan anak pada kesadaran terhadap lingkungan disekitarnya. Pengembangan pola ini perlu menjadi materi pembelajaran pada anak. Pada pembelajaran ini mebuat ank menjadi termotivasi untuk berimajinasi. Bukan hanya itu, juga anak dapat mengembangkan apa yang ia sadari disekitarnya, seperti menggambar kucing peliharaannya, mobil yang dikedarai ayahnya, dan sebagainya. Materi seni dapat mengembangkan satu dengan yang lainnya, terutam pada pengalaman nyata seni anak. Dan penggunaan bahan seni sebagai bahan pokok harus dilakukan dengan cara mengeksplorasi dan bereksperimen dengan berbagai kualitas cat tanah liat, tempera, atau bahan bahan lainnya.
C.   Masa Bagan
Pentingnya Tahap Skema
      Setelah banyak bereksperimen, anak muda tersebut sampai pada konsep pasti tentang manusia dan lingkungannya. Meskipun ada gambar representatif yang bisa disebut skema, atau simbol, dari objek nyata, di sini kita menyebut chema sebagai konsep yang telah diimpikan dan diulang berulang-ulang setiap kali tidak ada pengalaman yang disengaja yang menyebabkan perubahan simbol ini. Perbedaan dalam schemata tergantung pada banyak hal, tapi sama seperti tidak ada dua anak yang sama, kita menemukan bahwa tidak ada schemata yang identik.
      Gambaran mental yang dimiliki seorang anak terhadap benda-benda di lingkungannya adalah hasil dari proses berpikirnya; Gambar yang kita lihat di atas kertas adalah simbol citra mental itu, simbol yang berdiri untuk objek itu. Produk aretnya, kemudian, merupakan indikasi cara dia menafsirkan dan memahami informasi. Skema mengacu pada ruang dan gambar seperti objek. Meski tahap skematik biasanya dimulai pada usia tujuh tahun, beberapa anak akan mengembangkan skema lebih awal dari pada hal-hal tertentu, seperti orang, sedangkan anak-anak lain akan tetap berada dalam tahap preschematic.

Karakteristik Gambar Schematics
      Pada usia sekitar tujuh tahun, gambar sosok manusia oleh anak harus menjadi simbol yang mudah dikenali. Anak akan memotret bagian tubuh tergantung pada pengetahuan aktifnya tentang mereka. Tidak hanya akan ada kepala, badan, lengan, dan kaki, tapi juga beberapa aneka ragam fitur. Biasanya anak memasukkan simbol terpisah untuk tangan dan bahkan jari dan tentu saja simbol yang berbeda untuk kaki. Skema ususally terdiri dari bentuk geometris, dan bila dipisahkan dari wholde ini kehilangan maknanya. Terkadang oval, segitiga, kotak, lingkaran, persegi panjang, atau bentuk tidak beraturan digunakan sebagai skema untuk tubuh, meskipun segala macam bentuk digunakan untuk kaki, lengan, dan pakaian.
1. Skema ruang
     Sekarang ada kesadaran sadar akan tatanan hubungan antariksa yang pasti. Seorang anak sekarang berpikir "Saya di tanah, mobil ada di tanah, mobil ada di tanah, kita semua ada di tanah." Hal ini diungkapkan oleh sebuah simbol yang disebut garis dasar. Garis dasar muncul sebagai indikasi realisasi anak tentang hubungan antara dirinya dan lingkungannya. Garis ini tampaknya mewakili tidak hanya tanah tempat benda-benda berdiri tetapi bisa mewakili lantai, jalan, atau dasar dimana anak dengan benda-benda muncul di sepanjang garis. Dalam produk kreatif budaya primitif, garis dasar sering digunakan sebagai menas untuk menunjukkan gerakan. Mungkin oirigin dari garis dasar itu

Pengalaman kinestetik bergerak di sepanjang jalan. Penggunaan garis dasar ia juga sangat terlihat dalam seni beberapa budaya kompleks, seperti pada ukiran pada makam kuno
2. Garis Dasar sebagai Bagian dari Lansekap
      Saat anak menggambar atau melukis gambar di luar ruangan, garis dasar dapat digunakan untuk melambangkan dasar tempat benda berdiri dan di lain waktu untuk mewakili permukaan bentang alam. Ketika anak-anak dalam tahap skematik ini menggambar sebuah bangunan, cerobong asap biasanya digambar tegak lurus dengan garis atap, yang berfungsi sebagai garis dasar, sama seperti garis gunung menjadi garis dasar.
3. Sarana lain dari keterwakilan ruang
      Meskipun garis dasar ususally mewakili ruang dalam gambar dan lukisan, terkadang ada pengalaman yang berarti yang mendorong anak untuk menyimpang dari tipe shcema ini. Ini adalah konsep ruang subjektif dengan menggambar benda yang tampak terbalik. Pengalaman ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ini adalah keuntungan jika anak bekerja di lantai atau meja rendah, sehingga gambar atau lukisan bisa didekati dari segala arah. Terkadang anak tidak akan menggunakan garis dasar sebagai ground, melainkan meletakkan benda atau orang dalam lingkaran, seperti disekitar meja.
4. Gambar X-ray
      Seorang anak dapat menggunakan cara representasi menarik dan nonvisual lainnya untuk menunjukkan pandangan yang berbeda yang tidak dapat dilihat pada saat bersamaan. Dia menggambarkan bagian dalam dan luar buliding atau kandang lainnya secara bersamaan kapan pun bagian dalamnya lebih penting. Rupanya tidak menyadari ketidakmungkinan konsep visual semacam itu, ia mencampur bagian dalam dan bagian luarnya dalam gambarnya. Terkadang anak bisa jadi sangat terlibat dengan bagian dalamnya sehingga ia akan memperlakukan bagian luarnya seolah-olah transparan.
5. Ruang dan Waktu Representasi
      Penyajian ruang dan waktu termasuk dalam satu gambar dengan urutan waktu yang berbeda atau kesan distal secara sabar. Sama seperti seorang anak menciptakan cara untuk menampilkan benda dua dan tiga dimensi, terkadang dengan menggunakan rencana dan ketinggian pada tmie yang sama, maka ia juga menciptakan cara untuk menunjukkan kejadian yang terjadi secara berurutan. Salah satu tujuan representasi ruang-waktu adalah komunikasi. Seorang anak suka mendengarkan dan bercerita. Inilah salah satu alasan beberapa episode diwakili dalam satu urutan gambar. Menempatkan berbagai aspek pengalaman paktekal di samping satu sama lain dalam satu ruang adalah metode untuk menggambarkan kualitas khasnya.
6. Signifikansi Variasi dalam Skema
Jika skema adalah konsep manusia dan lingkungan yang telah dikembangkan anak, maka setiap penyimpangan memiliki kepentingan khusus. Jarang skema dasar itu sendiri berubah, namun variasi sering terlihat pada bagian atau bagian. Bentuk prinsip penyimpangan adalah: (1) melebih-lebihkan bagian-bagian penting (2) mengabaikan kelalaian bagian yang tidak penting atau yang ditekan; dan (3) perubahan simbol untuk bagian signifikan.

Arti Warna dan Desain
      Anak menemukan secara alami bahwa ada hubungan antara warna dan objek. Bukan lagi pilihan acak atau hubungan emosional yang menentukan warna mana yang dia pilih untuk objek dalam lukisannya. Penentuan warna pasti untuk sebuah benda dan pengulangannya yang konstan adalah bagian dari pengembangan proses berpikir anak yang terus berlanjut. Meskipun ada warna umum yang digunakan oleh kebanyakan anak untuk objek tertentu, setiap anak mengembangkan hubungan warnanya sendiri. Asal usul shcema warna individu mungkin ditemukan dalam konsep warna visual atau emosional. Ternyata, hubungan bermakna pertama yang dimiliki anak dengan benda bisa menentukan warna shcema-nya.
Perkembangan Anak Sekolah Dasar
      Gambar mencerminkan keberadaan total anak; munculnya shcema pasti memiliki banyak implikasi dan dapat memberi pemahaman kepada orang dewasa beberapa wawasan berharga mengenai perkembangan anak. Anak tidak lagi mewakili objek dalam kaitannya dengan dirinya sendiri tapi sekarang mulai mewakili objek dalam beberapa hubungan logis satu sama lain. Sebelum pengembangan skema bukan merupakan masa untuk permainan kooperatif. Kesadaran akan orang lain dan perasaan orang lain tidak akan bisa dipahami. Mungkin saja sejumlah besar waktu terbuang sia-sia di tingkat taman kanak-kanak dalam usaha menjaga ketertiban dan ketenangan, karena pembelajaran sejati ternyata terjadi kapan pun anak mengekspresikan dirinya, mengapa orang lain mendengarkan atau tidak.
Skema Gambar sebagai Refleksi Pertumbuhan
Dalam kelas mana pun kita menemukan perbedaan individual yang besar. Tidaklah lazim dalam bidang pengembangan intelektual untuk memiliki kelas kelas tiga yang terdiri dari anak-anak yang IQnya berkisar antara 75 sampai 125. Ini berarti pada dasarnya usia mental anak-anak ini akan berkisar dari tingkat enam tahun sampai tingkat sepuluh tahun. Salah satu indikasi perkembangan intelektual anak adalah pemahamannya terhadap dunia yang mengelilinginya. Benda mungkin bermakna atau tidak berarti bagi anak, tergantung hubungannya dengan mereka dan pemahaman intelektualnya terhadap anak tersebut. Area pertumbuhan emosi seringkali terbengkalai di dalam kelas. Seorang anak yang telah menyakiti jarinya biasanya mendapat segera
perhatian dari guru dan sering dari perawat atau bahkan dokter. Seorang anak dengan perasaan terluka, bagaimanapun, biasanya tidak memiliki siapa pun untuk meminta pertolongan untuk memperbaiki luka-lukanya. Kesempatan untuk mengungkapkan secara sosial dapat diterima perasaan kemarahan, ketakutan, dan bahkan kebencian tidak hanya menghasilkan pelepasan beberapa pelepasan tetapi juga memungkinkan anak tersebut untuk mengetahui bahwa penggunaan konstruktif dapat dilakukan dari keterlibatan emosional seseorang. Ketika sebuah skema digunakan dengan cara yang kaku, itu sebenarnya bisa menjadi pelarian dari menghadapi perasaan dan emosi seseorang. Di sisi lain, penggunaan skema yang fleksibel merupakan syarat penting untuk ekspresi diri sejati. Mereka sangat menyukai skema, simbol anak yang digunakan berulang-ulang kapan pun dia membutuhkannya, membuatnya sangat berbahaya untuk dianggap sebagai streotype yang diulang tanpa pribadi selama periode ini. Seni tidak hanya menyediakan kesempatan untuk melepaskan emosi secara konstruktif. Pertumbuhan sosial anak juga bisa dilihat pada produksi kreatif mereka. Anak menjadi kurang egois dan lebih sadar akan dirinya sendiri secara objektif; Penggunaan garis dasar menandakan bahwa dia mulai melihat dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain. Yang terkait di sini adalah perkembangan anak dalam perkembangan perseptual. Perumusan secara simbolis dari suatu benda menunjukkan sedikit kesadaran persepsi. Menjelang akhir tahap skematis ini, gambar anak-anak semakin dipengaruhi oleh persepsi visualnya tentang lingkungannya. Sampai taraf tertentu pertumbuhan fisik pun bisa terlihat pada produksi anak-anak. Seorang anak yang aktif jauh lebih mungkin untuk memberi gambaran gerakan dan tindakannya daripada anak yang kekurangan energi fisik; pelebaran terus menerus dari bagian tubuh yang sama mungkin menunjukkan beberapa cacat. Anak-anak sekarang lebih mampu menangani materi seni secara efektif; Harus ada sedikit kekhawatiran tentang cat yang tumpah, dan anak muda akan ingin menggunakan detalis yang lebih kecil dalam lukisan mereka. Pertumbuhan Aeshtetci tidak dimulai pada usia tertentu. Kapan pun benda atau bentuk menunjukkan keterpaduan pemikiran, perasaan dan persepsi, anak-anak tersebut telah mengembangkan kesadaran aeshtetic baik secara sengaja maupun tidak sadar. Anak itu tidak memiliki aturan estetika, yang bagaimanapun juga berubah karena nilai-nilai masyarakat berubah. Ini adalah efek dari pengalaman dan proses seni selama indivual, bukan produk akhir, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan estetika.
Motivasi Seni
      Jenis dan jenis motivasi yang digunakan guru pada tingkat usia yang berbeda tumbuh dari kebutuhan anak-anak selama setiap tahap perkembangan yang partiikular. Yang sangat penting adalah kebutuhan untuk menciptakan suasana yang menarik yang fleksibel dan terbuka terhadap saran dari anak. Setiap motivasi harus membuat anak lebih sadar terhadap dirinya dan lingkungannya, harus mengembangkan dan merangsang keinginan yang kuat untuk melukiskan gambaran yang berarti, dan harus mengembangkan dan merangsang keinginan yang kuat untuk melukis gambar yang bermakna dan materi pelajaran. Penting dalam motivasi seperti ini untuk memastikan bahwa setiap anak adalah anak
the oppportunity to identify with his own particular interests. Each child should feel that the motivation wa planned just for him.
Materi pelajaran
    Idealnya, tidak ada pokok bahasan yang harus dibutuhkan jika setiap anak menggambar, melukis, dan menyusun apa yang penting baginya, dan jika ia bebas dari tekanan eksternal untuk dilakukan dengan cara tertentu. Namun, masyarakat kita dipenuhi dengan pesan dari guru, orang tua, teman sebaya, televisi, dan radio untuk berperilaku dengan cara tertentu. Satu bidang materi pelajaran lain yang harus diperhatikan adalah topik dari materi itu sendiri. Alasan utama berkonsentrasi pada mahakarya adalah memastikan bahwa anak menggunakan bahan dengan cara yang fleksibel dan memiliki kesempatan untuk menyelidiki kemungkinan mereka.
Bahan seni
      Pemilihan bahan seni, relevansinya dengan kebutuhan khusus anak-anak dan kebutuhan mereka pada waktu tertentu, dan persiapan dan penanganannya merupakan pertimbangan penting. Setiap bahan seni harus memudahkan ekspresi diri anak dan tidak menjadi batu sandungan. Tiga hal penting dalam mengembangkan metode kerja dengan bahan. Pertama, guru harus tahu setiap anak harus mengembangkan tekniknya sendiri, dan setiap "pertolongan" dari guru menunjukkan anak itu "yang benar" hanya akan membatasi pendekatan individual anak. Kedua, setiap materi harus memberikan kontribusinya sendiri. Jika tugas bisa dilakukan dengan bahan seni yang berbeda dengan efek yang lebih baik, bahan yang salah telah digunakan. Ketiga, guru seharusnya tidak memaksakan terlalu banyak bahan pada anak. Dalam beberapa buku tentang pendidikan seni, banyak materi diperkenalkan dan digunakan sejak awal masa kanak-kanak. Anak yang usianya tujuh sampai sembilan tahun tidak memperhatikan representasi jarak.
D.   Masa Realisme Awal
Pentingnya Era Gang
      Salah satu karakteristik yang menonjol dari usia perkembangan ini adalah penemuan anak bahwa ia adalah anggota masyarakat, sebuah masyarakat dari rekan-rekannya. Penemuan memiliki minat yang sama, berbagi rahasia, kesenangan melakukan sesuatu bersama, semuanya mendasar. Usia ini adalah waktu untuk kelompok teman dan kelompok sebaya atau geng. Ini adalah bagian penting dari proses perkembangan dan merupakan langkah penting dalam interaksi sosial. Peningkatan ukuran anak, keterampilan, dan kekuatan memberi kesempatan bagi mereka untuk menjadi lebih mandiri. Nilai kelima mungkin memiliki banyak kemampuan, dengan beberapa anak membaca kelas tiga dan yang lainnya di kelas tujuh. Seorang anak muda pada usia ini semakin sadar akan dunia nyata jawa yang penuh dengan emosi, tapi emosi, yang tersembunyi dari orang dewasa. Terkadang ada kebingungan dalam penggunaan istilah realisme. Seringkali itu comfused dengan istilah naturalisme. Namun, istilah-istilah ini bisa menjadi self-explainatory, jadi lng seperti yang diingat bahwa naturalisme mengacu langsung pada alam dan ralisme mengacu pada apa yang nyata.
Karakteristik Gambar Selama Era Gang
      Bagi anak, usia ini mungkin merupakan periode penemuan yang paling dramatis dan sehat, seperti yang dapat terlihat dengan jelas dalam karya kreatifnya. Skema ini tidak lagi memadai untuk mewakili sosok manusia seperti yang diungkapkan selama tahap skematis sebelumnya adalah ekspresi umum seseorang. Sekarang, namun bentuk geometris tidak lagi mencukupi saat anak tersebut bergerak ke bentuk ekspresi yang sifatnya lebih dekat. Tapi si anak masih jauh dari representasi visual. Meskipun pada usia sembilan tahun kebanyakan anak masih membesar-besarkan ukuran sosok manusia, penelitian telah menunjukkan bahwa pembesar-besaran ini cenderung hilang selama tahap perkembangan ini. Anak mulai mengganti cara ekspresi lainnya untuk menunjukkan penekanan, seperti akumulasi rincian pada bagian-bagian yang signifikan.
1. Arti Warna
      Ada konsistensi dalam cara ekspresi chages. Anak bergerak dari hubungan benda-benda yang kaku dengan realisasi sifat-sifat warna. Sekarang dia membedakan antara sweter builsh-merah dan sweter biru yeloowish. Semakin dekat seorang anak datang ke hubungan visual antara warna dan objek, semakin banyak guru yang tergoda untuk menyalahgunakan rasa draing terhadap warna naturalistik dengan mengajarkan cara memilih dan menerapkan warna. Selama tahap ini, sembilan sampai dua belas, anak itu secara bertahap bergerak menjauh dari depenency-nya di atas beton. Dia sekarang mulai menangani dengan konsep yang tidak jelas. Dia sekarang dapat melakukan lebih banyak dalam gambar-gambarnya daripada menempatkan benda-benda secara beruntun seperti yang kita lihat pada tahap perkembangan sebelumnya. Hanya kesadaran diri dan lingkungan yang lebih besar membuat seorang anak menyadari bahwa bentuk geometris tidak memadai untuk mengekspresikan figur manusia, representasi ruang menunjukkan adanya perubahan dari penggunaan simbol garis dasar secara simbolis ke representasi yang lebih naturalistik. Untuk sebagian besar, sebelum usia ini, anak-anak hanya memiliki sedikit pemahaman tentang peta, terutama peta geografis negara-negara asing. Anak ts ageis sekarang mulai berpikir secara sosial, mempertimbangkan pemikiran dan pendapat orang lain, tapi ini adalah pergeseran lambat dari pemikiran egosentris. Seiring anak-anak sekarang menemukan lingkungan yang berarti dan mulai menghubungkannya dengan tema, sangat penting bagi pendidikan untuk memberi mereka perasaan tentang apa yang jujur di lingkungan kita, yaitu apa yang tidak tulus dan meniru. Ketulusan keindahan yang ditemukan di alam harus ditekankan, karena ini merupakan perpanjangan alami dari arah anak pada usia ini. Mungkin tampak seolah-olah penekanan yang tidak semestinya ditempatkan pada pengetahuan dan pemahaman material, sementara area desain mungkin tampak dilewati. Gambar dan lukisan oleh anak-anak di stae pembangunan mulai menunjukkan dekorasi. Kesadaran akan pola dan dekorasi yang berkembang ini tidak memberikan tipu daya untuk pengajaran desain formal.
Perkembangan Anak Gila
      Selama tahap ini anak mulai mengembangkan kesadaran dan kepekaan yang lebih besar terhadap lingkungannya. Dia telah bertanya-tanya mengapa segala sesuatunya bekerja seperti mereka, dan tentang keberadaan diri ini sendiri. Ini juga merupakan masa ketika anak mulai mengembangkan konsep diri, pemahaman tentang tema sebagai individu mandiri. Pada usia ini anak-anak belum memiliki kontrol penuh atas emosi mereka, dan seringkali kejadian yang tampaknya kecil akan sangat penting bagi seorang pemuda. Intensitas perasaan ini dapat dimanfaatkan dalam program seni. Hubungan emosi seorang anak berkembang dengan berbagai segmen lingkungannya dapat sering diungkapkan secara langsung atau simbolis.
Gambar Gangga Umur sebagai Pertumbuhan Refleksi
Kemampuan untuk melepaskan diri dari skema dan untuk merasakan dan memperhatikan variabilitas dalam lingkungan khas dari usia ini. Anak-anak kadang-kadang kritis terhadap gambar jika ini tidak sesuai dengan interpretasi mereka sendiri tentang apa yang nyata. Naturalisme bukanlah anak kuda utama pada usia ini, karena inilah ususally yang tidak berusaha menunjukkan efek cahaya dan bayangan, atmosfer, efek atau bahkan refleksi warna atau lipatan pada kain. Bagi beberapa guru, pertumbuhan intelektual hanya berkonotasi pada kemampuan membaca iklan matematika. Anak kelas empat weer diberi beberapa tugas seriasi yang mengharuskan mereka mengatur lingkaran berwarna dalam susunan persegi panjang sesuai dengan ukuran yang meningkat dalam satu arah dan warna. perbedaan pesanan. Pertumbuhan sosial, selama periode ini, adalah salah satu aspek pembangunan yang luar biasa, namun bila ada sesuatu yang mengganggu perasaan baru kepemilikan sosial, anak tersebut dapat menarik diri dan tetap menjadi orang luar. Kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok dapat segera terlihat saat anak bekerja bersama di atas mural. Sudah jelas bahwa perubahan dalam menggambar dan melukis akan terjadi secara alami ketika seorang anak telah mengalami interaksi yang lebih besar dalam aktivitas kelompok. Salah satu bidang pertumbuhan terpenting yang dapat disumbangkan seni adalah pertumbuhan kreatif. Selama tahap perkembangan ini ada cita rasa tekanan yang luar biasa bagi anak-anak agar tidak hanya sesuai dengan keinginan orang dewasa, tapi juga tuntutan kelompok tersebut.
Motivasi Seni
Orang dewasa sering memiliki kenangan menyenangkan masa kecil. Namun, sebagian besar kenangan ini ada kejadian dan situasi di luar sekolah. Mungkin kita masing-masing memiliki kenangan akan masa-masa ini. Motivasi sekarang harus memanfaatkan anak muda. Greaer mandiri untuk memberi dukungan pada harga diri mereka. Pengalaman seni harus memberi kesempatan untuk mengungkapkan kesadaran seks yang terus meningkat, untuk mengembangkan kesadaran akan rak yang lebih besar, dan untuk memuaskan keingintahuan baru tentang lingkungan. Metode koopertasi kedua atau obyektif lebih berhubungan secara langsung dengan kelompok pekerjaan itu sendiri. Seluruh kelompok mengerjakan satu proyek. Disini juga jenis motivasi akan menentukan keberhasilannya. Peran guru adalah tindakan bawahan dalam tindakan ini. Dia adalah katalisator. Ini adalah tugas yang jauh lebih sulit untuk merangsang dan mendorong anak-anak untuk belajar, berproduksi, dan mengeksplorasi dengan sendirinya. Metode pembuatan produk yang lebih mudah adalah dengan memberikan tugas secara otoritatif dan memiliki metode "terbaik" untuk mencapai hasil yang telah dilakukan sebelumnya.


Materi pelajaran
      Subjek adalah hubungan subjektif manusia dengan perkembangannya. Seiring perubahan anak, begitu pula ekspresi seni. Saran berikut didasarkan pada karakteristik khusus dari tingkat perkembangan ini. Untuk merangsang vooperasi subyektif, untuk mengembangkan perasaan menjadi bagian dari kelompok dan untuk mengidentifikasi dengan aktivitas kelompok. Dengan hilangnya garis dasar, kesempatan yang luas harus diberikan pada anak-anak untuk mengeksplorasi kemungkinan penggunaan pesawat terbang. Ada banyak bidang materi pelajaran yang terkait dengan pengembangan keterampilan dan meningkatnya keakraban dengan sifat material. Ada satu hal penting yang sangat penting yang ada dalam masing-masing chlid. Dalam beberapa kasus, masalah ini mungkin sangat jelas seperti cinta seorang anak untuk bekerja dengan peralatan. Terkadang, bagaimanapun, itu bisa disembunyikan di bawah permukaan, seperti pada penolakan penolakan yang tenang.
Bahan seni
       Anak tersebut telah mengembangkan penggunaan bentuk geometris dan representasi garis dasar. Karena mereka lebih peduli dengan detail dulu, beberapa anak akan ingin menggunakan sikat rambut disamping sikat britsle. Materi bagus hanya jika memberi kontribusi pada kebutuhan anak-anak dan membantu mengungkapkan niat mereka. Meskipun ada materi tak terbatas yang tersedia untuk penggunaan anak-anak, harus diperhatikan bahwa mereka yang memilih meminjamkan tema untuk diungkapkan dan tidak membatasi keaslian anak-anak. Kertas berwarna adalah bahan dasar untuk usia ini, ia menyediakan sarana alami untuk tumpang tindih dan merupakan bahan yang tepat untuk tahap awal kerja sama melalui proyek.

E.    Seni dalam Sekolah Menengah Pertama
1.     Peran Seni
Seni bisa jadi sikap terhadap kehidupan, memformulakan perasaan dan emosi serta memberi mereka ekspresi yang berwujud. Kelas seni dalam sekolah negeri saat ini difokuskan pada hasil karya dibanding perkembangan sikap artistik.
Kurikulum yang biasa diterapkan dibagi menjadi segmen materi pelajaran yang kecil, dan segmen tersebut biasanya dibenarkan pada persiapan kejurusan atau pendidikan dasar. Ada istilah bahwa “IPA adalah segala jawaban” yang menempati titik berat dan ketergantungan pada teknologi. Hal ini berarti, ekspresi anak akan terhambat. Justru Sei menjadi wadah sistem sekolah dimana perkembangan perasaan dan emosi dituangkan dengan pengenalan yang tepat.
2.     Perubahan psikologi dari Sekolah dasar ke Sekolah Menengah Pertama
Pada saat sekolah dasar, anak menggambar tanpa ada larangan. Saat naik kelas 4, 5, terutama 6, anak menjadi lebih was-was akan hasil karyanya. Kemudian naik kelas 7, sikap kritis mulai menonjol. Merekapun sadar akan keterbatasannya diantara teman-temannya. Mereka juga mulai membantah orang tuanya, kecewa akan sekolah dan terkadang tidak percaya diri.
Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa banyak individu yang berhenti berkreatifitas. Anak kelas 6 biasanya akan menutupi gambarnya saat orangtua datang. Kelas 7 lebih ingin menonjolkannya. Namun kelompok bermain lebih bersemangat menunjukkan karyanya. Kita bisa simpulkan bahwa, Melatih kepercayaan diri merupakan tugas penting dalam pendidikan seni rupa, terutama dalam sekolah menengah Pertama.
Dalam penelitian menggambar “bermain kejar-kejaran di lapangan sekolah” anak sekolah menengah pertama menggambar figur orang senatural mungkin,  lebih proporsional, berpakaian layaknya kita sehari-hari. Gambar tersebut menunjukkan anak dapat memahami unsur penting apa yang ada ketika kita bermain kejar-kejaran dengan latar lapangan sekolah. Hal ini mencerminkan anak mengalami perkembangan dalam tinkat tertenu.
Willats (1977) melakukan observasi anak usia 5-17 tahun untuk menggambar radio, box dan wajan diatas meja. Usia 9-12 mulai mencoba berbagai cara untuk mengarsir kedalaman dan rinci dalam tumpukkan objek, tetapi perspektif hanya digunakan oleh setengah dari usia 15 dan usia 17.
Kita dapat menyimpulkan bahwa adanya proses, yang bertanggung jawab untuk berbagai metode penggambaran.
3.     Pentingnya Identifikasi Diri
Untuk menyelesaikan masalah dan tujuan untuk diri sendiri, bertanggung jawab untuk pengarahan metode ekspresi, adalah pertimbangan penting dalam pengembangan program seni untuk sekolah menengah Pertama. Maka dari itu, ada baiknya, menilai hasil karya dari identifikasi si pembuat dan emosionalnya yang terlibat.
Seni tidak membatasi karya untuk harus memiliki nilai keindahan. Yang terpenting adalah menyediakan suasana ekspresif daripada harus menilai selera setiap murid. Hal ini harus difokuskan pada anak yang telah dicap “Nakal” atau yang pernah kena sanksi. Karena kebanyakan dari mereka tidak mampu berekspresi secara kreatif. Penyaluran energi dengan kegiatan produktif dan kesempatan untuk menidentifikasi harus dititikberatkan pada sekolah menengah pertama.
4.     Kreatifitas dalam Program Sekolah Menengah Pertama
Perkembangan pola pikir kreatif wajib menjadi bahan esensial program seni rupa, fleksibilitas, keorisinilan, dan kemampuan berfikir independen dan imajinasi tidak bisa ditinggalkan.
Tindakan sederhana yang dapat dilakukan guru seni adalah mengikuti silabus yang berlaku dan dikembangkan program seni rupa dengan menugaskan projek-projek yang mudah dikerjakan. Semangat untuk meneliti dan pertumbuhan murid dalam proses eksplorasi menjadi lebih stimulan.
Studi telah menunjukkan bahwa individu lebih mudah terpengaruh dari rekan-rekannya untuk menyesuaikan diri. Dengan kata lain, kelompok dapat menyediakan Disamping itu, kelompok bisa menyediakan banyak stimulasi dan mendukung pola pikir inovatif. Tekanan kelompok bisa dimanfaatkan Jika suasananya sedemikian rupa sehingga kreativitas dihargai.


F.    Masa Naturalisme Semu

Adalah masa paling menarik, dimana anak mengetahui bahwa mereka sudah beranjak ke tahap remaja. Tahap ini menjadi signifikan dan mudah dimengerti karena memasuki transisi dunia orang dewasa.
Anak akan menjadi menjadi lebih sadar akan hasil karyanya. Beberapa anak juga enggan dalam menunjukkan karya mereka kepada orangtua. 70% mengindikasikan mereka lebih menyukai hasil karya jika tercapai sedemikian rupa dengan apa yang ia harapkan. Peran seni dalam tahap ini harus memberi dukungan terhadap individual kalangan muda, harus tersedia penerimaan sosial untuk melepaskan emosi dan tekanan, serta transisi dari ekspresi kekanakan menjadi pendewasaan.
1.     Rrepresentasi Figur Manusia
Biasanya karakteristik alat intim ditonjolkan lebih sebagai cerminan perkembangan fisik anak. Sebaliknya, jika tidak menonjolkan hal tersebut dalam menggambar, akan menunjukkan ketakutan terhadap perubahan.
Mulai ada tambahan detil seperti kerutan/lipatan baju, pencahayaan, perubahan warna dibawah atmosfir yang berbeda. Biasanya anak laki-laki lebih banyak merepresentasikan figur manusia dengan kartun. Namun tantangan anak pada tahap ini adalah menggambar dirinya sendiri.
2.     Representasi Ruangan
Pada tahap ini, terjadi pengurangan jarak antar objek. Selain itu, mereka juga sudah mengerti tentang bangun ruang sehingga diterapkanlah pembelajaran menggambar teknik yang difokuskan pada perspektif. Jika anak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas ini, maka ia akan mengalami kesulitan mengidentifikasi spasial.
3.     Pentingnya Warna dan Desain
Hal ini sering berkaitan dengan lettering, seperti menulis nama dengan gaya tulisan sambung. Kadang-kadang coretannya berupa bagian tubuh yang berbentuk unik atau lebih terlihat seperti gaya psychedeic. Anak juga memiliki pemahaman dan simpati besar terhadap alam dalam desain. Dari sini pula, anak menunjukkan seleranya masing-masing.
4.     Motivasi Seni
Bagaimana anak mencari jati diri sebenarnya. Dalam pengajaran ada baiknya pada tahap ini, guru menyediakan bimbingan dan dorongan agar ekspresi anak dapat menjadi sebuah wujud yang utuh dan bermakna. Kemungkinan tata ruang kelas seni yang baik adalah mengatur meja menadi beberapa kelompok kecil agar mereka bisa berdiskusi dan saling mengevaluasi.
Perkembangan tentu penting untuk memperkuat pola pikir individual. Oleh karena itu vital bagi kalangan muda untuk merasakan kegiatan-kegiatan seni dengan menuangkan ekspresi pribadinya. Salah satu tujuan untuk mengembangkan kesadarannya adalah mengamati dirinya sendiri dan sekitarnya.
Melibatkan anak-anak dalam pengalaman seni rupa dapat membawa ke berbagai arah. Motivasi itu sendiri bervariasi, tergantung pada kondisi kelas, ketertarikan murid, dan objektif guru.
Tahap ini bukanlah untuk menyusun atau menghafal aturan yang harus diikuti; dibanding harus menjadi kesempatan untuk mengembangkan kesadaran seni rupa sebagai aspek kehidupan.
Anak-anak muda yang tidak percaya diri bisa diarahkan ke patung, tanah liat, dan collage. Agar mendorong keinginan anak untuk menciptakan sesuatu.
5.     Subjek Penting
·      Emosi
Adanya banyak kesempatan dalam tahapan ini, untuk menuangkan perasaannya. Segala motivasi harus digunakan se-fleksibel mungkin.
·      Pribadi dan lingkungan sosial
Meningkatnya kesadaran akan perkembangan fisik dan penasaran terhadap lawan jenis. Mengamati makhluk sosial lain bukan dari wujudnya, tetapi dari latar belakangnya sehingga ada rasa empati.
·      Kehidupan Sekolah
Jika banyak murid merasa bahwa sekolah perlu dekorasi, maka aktivitas seni bisa bermain multi peran dalam membantu murid untuk mengekspresikan perasaannya sekaligus melibatkan mereka dalam kegiatan sekolah.
·      Desain dan Alam
Menggambar objek alam langsung mampu memperluas dimensi-dimensi yang bisa memberikan wawasan tentang kualitas desain dinamis yang menakjubkan dari lingkungan natural kita. Penemuan ruang positif dan negatif bisa menjadi poin awal untuk eksperimen kreatif.
6.     Material yang digunakan
Hampir semua material dapat dikuasai walau terkadang mereka masih ceroboh dalam menggunakannya. Material maupun berukuran besar atau kecil akan menarik perhatiannya. Dengan meningkatkan kegunaan material yang kompleks, kerajinan tangan mulai dikenalkan dalam tahap ini.

G.   Masa Penentuan
1.     Pentingnya Seni Sekolah Menengah Akhir
Pada tahapan ini, tidak banyak yang diharapkan dari seni. Sebagian besar mereka tidak mementingkan seni sebagaimana ketika masih kecil. Masyarakat menganggap pelajaran seni memiliki peran minor dalam kurikulum sekolah. Seni juga bukan pula menjadi daya tarik anak-anak pada tahapan ini.
2.     Dasar seni dalam Sekolah Menengah Akhir
Program dasar yang dapat melibatkan individu seutuhnya dalam proses pembuatan hasil karya yang bermanfaat tidak untuk dia sendiri, tetapi juga untuk masyarakat.
Dengan demikian, dasar seni dalam sekolah menengah akhir adalah kegiatan yang bertujuan unutk melibatkan siswa seutuhnya dalam budaya dimana ia akan menemukan hati dirnya, adanya ketersediaan pemahaman untuk menciptakan perubahan nyata dan kesempatan untuk menghadapi kebutuhan yang diperlukan.
Struktur Program Seni
      Para siswa yang akan mengikuti program seni di sekolah menengah harus menjadi pertimbangan pertama dalam perencanaan apapun. Sangat sedikit siswa di bidang seni ini yang benar-benar akan melakukan sesuatu di luar sekolah dengan seni. Mungkin salah satu elemen terpenting adalah sikap yang berlaku. Jika kursus seni dipandang sebagai kursus akademis lain dengan kuis, ujian, dan proyek yang akan ditandai, seni akan kehilangan signifikansi dan dampaknya pada siswa. Ada pertanyaan serius apakah siswa SMA benar-benar belajar atau lebih banyak belajar dari kelas seni seperti yang diajarkan saat ini. Hal ini dimungkinkan untuk berurusan dengan seni sedemikian rupa untuk membuat program yang bermakna dan mengasyikkan.
Kegiatan seni
      Salah satu kegiatan terpenting di kelas seni adalah kesempatan untuk melukis. Lukisan telah lama dianggap paling bertolak belakang dari bentuk seni. Pendekatan yang sangat langsung terhadap masalah ini adalah memperbesar konsep seni dewasa. Pastinya yang segar dan dalam beberapa kasus lukisan tumpul beberapa seniman contenporary bisa membangkitkan remaja hingga kemungkinan baru. Program seni harus melibatkan siswa dalam pengalaman sekolahnya sendiri. Meskipun kadang-kadang mendengar program di mana musik, tarian, dan drama digabungkan dengan seni, program ini sangat sedikit. Di luar sekolah langsung mungkin daerah yang paling bermanfaat untuk eksplorasi. Di bidang seni yang luas, sangat sedikit seniman yang sebenarnya pelukis. Ada sedikit kesempatan di masyarakat kita untuk remaja untuk terlibat dalam pelatihan magang atau untuk pergi lagi pemahaman tentang jenis pekerjaan yang melibatkan orang dewasa. Seringkali orang yang lebih muda akan bersengketa dari sekolah menengah atas tanpa melakukan lap manual lebih banyak daripada mengasuh anak atau menyekop salju dari trotoar Bidang seni hampir tak 

terbatas dalam kemungkinan.

Bahasan kemudian adalah contoh daripada tahapan tahapannya. 

Sumber: Makalah Pendidikan Seni Rupa (Paper) yang disusun oleh Larasati Fildzah, Safira Khairunisa, dan Sheba Emmanuel. Universitas Negeri Jakarta.