Pada mata kuliah Kewarganegaraan hari itu, belajar mengenai Demokrasi di Indonesia. Namun, kami memang membahas Demokrasi di Indonesia. Tapi yang paling berkesan ketika bermain game demokrasi yaitu kami musti memiliki calon "Presiden" dan seolah kami adalah "Rakyat". Menarik dan berkesan sekali.
Dapat ditarik kesimpulan, bahwa secara realistis demokrasi di Indonesia belum begitu nyata dan fair. Bahkan kadang pemimpin yang menang bukan purely hasil kerja calon pemimpin tersebut, melainkan rakyat masih banyak yang memilih berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. Tidak jarang pula yang memilih golput karena buta politik (tidak tahu mau memilih siapa dan tidak kenal dengan calon pemimpinnya), justru visi misi dapat dinomor duakan oleh rakyat untuk memilih para wakil rakyat.
Artikel:
Demokrasi di Indonesia adalah suatu proses sejarah dan politik perkembangan demokrasi di dunia secara umum, hingga khususnya di Indonesia, mulai dari pengertian dan konsepsi demokrasi menurut para tokoh dan founding fathers Kemerdekaan Indonesia, terutama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Soetan Sjahrir. Selain itu juga proses ini menggambarkan perkembangan demokrasi di Indonesia, dimulai saat Kemerdekaan Indonesia, berdirinya Republik Indonesia Serikat, kemunculan fase kediktatoran Soekarno dalam Orde Lama dan Soeharto dalam Orde Baru, hingga proses konsolidasi demokrasi pasca Reformasi 1998 hingga saat ini. (sumber: Wikipedia)
Nilai nilai demokrasi
1. Menjamin tegaknya keadilan (Ensure Justice)
2. Penggunaan kebebasan bertanggungjawab
3. Kepemimpinan dipilih secara teratur sehingga tidak tercipta rezim
4. Penyelesaian sengketa ataupun perselisihan atau konflik (baca pengertian konflik) dapat diselesaikan secara kelembagaan (jalur hukum) ataupun jalur damai
5. Perubahan sosial kemasyrakatan yang mengarah ke perkembangan kemajuan dapat terjadi dengan aman menjamin terselenggaranya perubahan dalam masyarakat secara damai/ tampa gejolak
6. Pengakuan terhadap keanekaragaman. Untuk demokrasi pancasila hal ini bukan masalah karena telah menjadi unsur dalam demokrasi pancasila
Selamat Datang di Ruang sederhana yang sengaja ku siapkan untuk menulis dan berbagi. Blog ini terdapat 9 Resume Perkuliahan Kewarganegaraan dan 10 Materi Wajib Kewarganegaraan. Disertai 3 Artikel Seni Rupa. Total 22 Post(s) bermanfaat siap memberi anda inspirasi. Senang dapat berbagi, karena dengan berbagi kita dapat mengerti. Semoga bermanfaat!
Sabtu, 30 Juni 2018
Integrasi Bangsa
Pada pertemuan Pendidikan Kewarganegaraan pada tanggal 27-03-2018.
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional.
Berikut Faktor pendorong Integrasi Nasional adalah:
1. Adanya rasa yang senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor-faktor sejarah.
2. Adanya ideologi nasional yang tercermin di dalam simbol negara yakni Garuda Pancasila dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
3. Adanya sikap tekad dan keinginan untuk kembali bersatu di dalam kalangan Bangsa Indonesia seperti yang telah dinyatakan di dalam Sumpah Pemuda.
4. Adanya ancaman dari luar yang menyebabkan adanyadan munculnya semangat nasionalisme dalam kalangan Bangsa Indonesia.
Faktor penghabambat integrasi nasional:
1. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang memiliki sifat heterogen.
2. Kurangnya toleransi antar sesama golongan.
3. Kurangnya kesadaran di dalam diri masing-masing rakyat Indonesia terhadap segala ancaman dan gangguan yang mucul dari luar.
4. Adanya sikap ketidakpuasan terhadap segala ketimpangan dan ketidak merataan hasil pembangunan.
Integrasi nasional penting untuk diwujudkan dalam kehidupan masyrakat Indonesia dikarenakan Indonesia merupakan negara yang masih berkembang atau dapat dikatakan negara yang masih mencari jati diri. Nah, maka dari itu kita perlu mendorong integrasi nasional juga mendukung. Ini cara mendukungnya.......
Kita bangga dengan bahasa Indonesia, bangga dengan produk lokal, semangat dalam persatuan Indonesia, semangat bergotong royong, dan memiliki rasa sadar akan kesamaan senasib pada masa penjajahan masa lalu.
Kalau bukan kita? Siapa lagi!
Integrasi nasional adalah usaha dan proses mempersatukan perbedaan perbedaan yang ada pada suatu negara sehingga terciptanya keserasian dan keselarasan secara nasional.
Berikut Faktor pendorong Integrasi Nasional adalah:
1. Adanya rasa yang senasib dan seperjuangan yang diakibatkan oleh faktor-faktor sejarah.
2. Adanya ideologi nasional yang tercermin di dalam simbol negara yakni Garuda Pancasila dan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
3. Adanya sikap tekad dan keinginan untuk kembali bersatu di dalam kalangan Bangsa Indonesia seperti yang telah dinyatakan di dalam Sumpah Pemuda.
4. Adanya ancaman dari luar yang menyebabkan adanyadan munculnya semangat nasionalisme dalam kalangan Bangsa Indonesia.
Faktor penghabambat integrasi nasional:
1. Kurangnya penghargaan terhadap kemajemukan yang memiliki sifat heterogen.
2. Kurangnya toleransi antar sesama golongan.
3. Kurangnya kesadaran di dalam diri masing-masing rakyat Indonesia terhadap segala ancaman dan gangguan yang mucul dari luar.
4. Adanya sikap ketidakpuasan terhadap segala ketimpangan dan ketidak merataan hasil pembangunan.
Integrasi nasional penting untuk diwujudkan dalam kehidupan masyrakat Indonesia dikarenakan Indonesia merupakan negara yang masih berkembang atau dapat dikatakan negara yang masih mencari jati diri. Nah, maka dari itu kita perlu mendorong integrasi nasional juga mendukung. Ini cara mendukungnya.......
Kita bangga dengan bahasa Indonesia, bangga dengan produk lokal, semangat dalam persatuan Indonesia, semangat bergotong royong, dan memiliki rasa sadar akan kesamaan senasib pada masa penjajahan masa lalu.
Kalau bukan kita? Siapa lagi!
Minggu, 24 Juni 2018
Pendidikan Seni Rupa: "Creative and Mental Growth"
Resume:
Setiap usia anak memiliki karakteristik yang
berbeda beda seperti pada umur dua hingga empat tahun karena gambar anak akan
mengalami perubahan bentuk baik secara struktur maupun penambahan ruang dan
waktu. Sehingga perlu pemahaman terhadap setiap periodisasi usia perkembangan
anak. Lowenfeld merangkum perkembangan anak menjadi 6 tahapan mulai dari usia 2
sampai 17 tahun, dimana anak sudah mulai dewasa.
Pola pikir kreatif dan ekspresif
berpengaruh besar dalam tahap-tahapan ini. Apabila tidak diasah, maka anak akan
berkembang memiliki pola pikir kaku dan tidak emosional.
Maka dari itu sangat esensial bagi
kita untuk mempelajari periodisasi ini supaya kita akan lebih mudah memahami
karakteristik anak lewat karya seni. Berikut Tahapan menurut Viktor
Lowendfeld dan Lambert Brittain dalam buku “Creative and Mental Growth” yang telah saya rangkum.
A.
Masa
Mencoreng
Masa
Mencoreng/Mencoret (Scribbling Period)
1.
Pentingnya
Anak Usia Dini
Pada
awal usia anak terutama 2 hingga 4 tahun adalah yang terpenting pada masa
perkembangan dalam pertumbuhannya. Pada masa ini untuk mempelajari pola
kebiasaan, sikap perilaku, dan mulai terbentuknya jati diri. Seni dapat
membantu dalam mengembangkan pada
interaksi antara anak dan lingkungannya serta bagaimana mengambil tempatnya.
2. Perkembangan
Tahap Pencorengan
Didalam
tahapan menggambar anak, terdapat pula umum perkembangan dari hasil coretan
atau gambar anak. Pola tersebut dumulai dari sejak anak menghasilkan
coretan-coretan yang tak terarah hingga dapat membuat gambar yang sesuai dengan
objek yang digambarkan.
Aktifitas
motorik yang terwujud dalam goresan tebal tipis dengan arah yang belum
terkendali dan warna tidak begitu penting. Ada tiga tahap coreng moreng.
• Corengan Tak Beraturan
Pertama:
coreng tak beraturan, bentuk sembarang, mencoreng tanpa melihat kertas belum
dapat membuat lingkaran dan bersemangat. Ciri
gambar yang dihasilkan anak pada tahap
corengan tak beraturan adalah
bentuk gambar yang
sembarang, mencoreng tanpa
melihat ke kertas,
belum dapat membuat corengan
berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.
• Corengan yang mulai terkendali
Kedua:
corengan terkendali, menemukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya.
Terdapat perkembangan koordinasi antara perkembangan visual dan motorik serta
semangat. Corengan terkendali ditandai
dengan kemampuan anak
menemukan kendali visualnya
terhadap coretan yang
dibuatnya. Hal ini
tercipta dengan telah
adanya kerjasama antara koordiani
antara perkembangan visual
dengan perkembamngan
motorik. Hal ini
terbukti dengan adanya
pengulangan coretan garis
baik yang horizontal , vertikal, lengkung , bahkan
lingkaran.
Tahap
ini berkembang mulai dari usia 2 tahun pada saat anak mulai dapat menggemgam
dan mencorengkan alat tulis atau gambar secara acak hingga pada suatu saat ia
dapat dengan “cara kebetulan” mewujudkan satu gambar yang dapat
diasosiasikannya dengan bentuk nyata. Coreng mencoreng yang dibuat mula-mula
merupakan goresan yang tidak menentu, tebel tipis terganting pribadi anak. Lama
kelamaan anak menyadari adanya hubungan yang dibuatnya antara gerkan tangannya
dengan hasil yang diperolehnya. Karenanya berarah goresannya menjadi panjang,
bolak-balik kemudian bulat-bulat.
• Corengan yang Bernama
Ketiga:
coretan bernama, bentuk semakin bervariasi mulai memberi nama pada hasil
coretan, membutuhkan waktu banyakan warna mulai diperhatikan. Pada saat
terakhir dari masa mencoreng ini anak mulai memberi nama goresan-goresanya, dan
berubahlah garis-garis yang tidak menentu menjadi lebih terkendali. Dalam masa
ini anak perlu dibina dengan memberikan stimulasi-stimulasi yang tepat serta
mengaktifkan imajiasinya. Biasanya terjadi
menjelang usia 3-4
tahun, sejalan dengan
perkembangan bahasanya anak
mulai mengontrol goresannya
bahkan telah memberinya
nama, misalnya: “rumah”, “mobil”, “kuda”.
Hal ini dapat
digunakan oleh orang
tua atau guru
pada jenjang pendidikan usia
dini (TK) dalam
membangkitkan keberanianan anak
untuk mengemukakan kata-kata tertentu
atau pendapat tertentu
berdasarkan hal yang digambarkannya.
Secara
rinci proses mencoreng yang dialami oleh usia tersebut selalu dimulai dengan
corengan-corengan mendatar, kemudian menegak dan diakhiri dengan
melingkar-lingkar.
Corengan
mendatar terjadi disebabkan karena gerak sendi-sendi yang mash terbatas pada
sendi besar, itu pun masih sedikit kaku, gerak sendi yang digunakan lebih
sederhana yaitu gerakan sendi sendi pangkal lengan saja. Gerakan tersebut
diulangi oleh anak dengan rasa yang menyenangkan.
Tahap
berikutnya setelah gerakan pada sendi besar yaitu gerakan yang berpangkal pada
seni di pangkal lengan dan sikut yang bergerak secara bersamaan. Goresan yang
di hasilkan ialah goresan-goresan menegak.
Dengan
ukuran tangan yang relatif masih pendek dan bidang gambar yang relatif kecil,
maka kemampuan anak hanya akan menggambarkan garis tegak. Untuk memperoleh
garis yang panjang, biasanya anak mencari bidang gambar yang lebar. Yang
terjadi yaitu anak menggambar pada tembok. Tembok dianggap bidang gambar yang
memenuhi syarat.
Dengan
senangnya anak membawa alat gambar dan mencorengnya pada tembok. Jika ingin
garisnya panjang mendatar, maka ia akan berjalan keseluruh ruang dengan
menggoreskan alat gambarnya. Setelah puas dengan tahap tersebut, anak mulai
membangun bentuk pada coretannya. Biasanya dibentuk dalam melingkar-lingkar.
3. Arti
Warna
Pengalaman
mencoreng, kemudian, terutama merupakan aktivitas motorik. Pada kepuasan
pertama berasal dari pengalaman gerak kinestetik, selanjutnya dari kontrol
visual dari garis-garis ini, dan akhirnya dari hubungan garis-garis ini ke
dunia luar. warna, oleh karena itu, memainkan peran bawahan yang jelas dalam
tahap penulisan. Hal ini terutama terjadi ketika anak melakukan koordinasi
motorik. Pilihan banyak warna terkadang bisa membuat anak-anak tidak
mencoret-coret. Anak itu perlu bisa membedakan tanda dari sisa halaman. Oleh
karena itu, perlu untuk memilih bahan gambar yang akan memberikan kontras yang
kuat. Krayon hitam di atas kertas putih di papan tulis lebih disukai daripada
warna yang mungkin tidak memberi kontras ini. Pada tahap ini anak usia 2-4
tidak terlalu memikirkan mengenai warna dan karakteristik warna yang
digunakannya dalam mencoret. Apalagi pada segi emosional, tentunya anak masa
ini belum mengerti mengenai karakter makna warna tersendiri dan lebih memilih
untuk menselaraskan dengan selera apa yang ia sukai. Seperti lingkaran berwarna
biru, dan segitiga berwarna cokelat. Hal tersebut spontan dipilih sesuai
keinginan mereka.
4. Lingkungan
dan Proses Perkembangannya
Anak-anak
memiliki jiwa bebas dan ceria. Mereka sangat menyenangi warna-warna cerah,
misalnya pada crayon. Kesenangan menggunakan warna biasanya setelah ia bisa
memberikan judul terhadap karya yang dibuatnya. Penggunaan warna pada masa ini
lebih menekankan pada penguasaan teknik mekanik penempatan warna berdasarkan
kepraktisan penempatannya dibandingkan dengan kepentingan aspek emosi.
Pada
masa mencoreng, bila anak difasilitasi oleh orang tua, maka akan memiliki
peluang untuk melakukan kreasi dalam hal garis dan bentuk, mengembangkan
koordinasi gerak, dan mulai menyadari ada hubungan antara gambar dengan
lingkungannya. Hal yang paling penting yang harus dilakukan oleh orangtua dan
guru pada masa ini adalah dengan memberi perhatian terhadap karya yang sedang
dibuat anak, sehingga tercipta kemampuan komunikasi anak dengan orang dewasa
melalui bahasa visual.
5. Mencoreng
sebagai Cerminan Pertumbuhan
Proses
pertumbuhannya berlanjut, tapi tidak mulus. Hal ini bisa dilihat pada
pertumbuhan fisik anak. Meskipun kita dapat mengatakan bahwa anak-anak dari
usia tertentu memiliki tinggi rata-rata dalam beberapa inci, kita menemukan
perbedaan besar pada individu; Lonjakan pertumbuhan mendadak, terutama selama
masa remaja, membuat kita sadar bahwa pertumbuhan sangat tidak merata. Hal yang
sama juga berlaku untuk perkembangan anak kecil. Kami telah mengatakan bahwa
seni adalah cerminan reaksi manusia terhadap lingkungannya; Pada tahap
penulisan ini mudah dilihat, karena mencoret-coret bisa dianggap sebagai
cerminan perkembangan fisik dan emosional anak. Sama seperti kita menemukan
perbedaan dalam pertumbuhan, kita juga menemukan perbedaan individu yang besar
dalam penulisan anak-anak.
6. Motivasi
Seni
Biasanya
pada tahap pertama pencoretan tidak ada motivasi khusus yang dibutuhkan kecuali
untuk memberi anak itu hak kepada anak dengan materi dan dorongan yang tepat
untuk melanjutkan aktivitas. Sebagian besar anak-anak dengan penuh semangat
menutupi dua atau tiga lembar kertas dengan coretan. Anak yang sangat muda akan
terus melakukan aktivitas ini tidak lebih dari beberapa menit. anak berusia
empat tahun, jika dia sampai pada penamaan tahap penulisan, atau jika dia
diperkenalkan dengan materi baru, boleh melakukan kegiatan ini selama 20 sampai
20 menit. Namun, tidak ada jam yang harus menentukan berapa lama seorang anak
dapat menghabiskan waktu untuk mengekspresikan dirinya di atas kertas. Selama
tahap pertama penulisan, tidak ada motivasi khusus yang diperlukan, sedangkan
topik yang disarankan anak pada tahap penulisan terakhir sangat sesuai untuk
memperpanjang proses berpikirnya.
Idealnya,
setiap anak harus termotivasi untuk mengekspresikan dirinya dan merasa puas
dengan prosesnya. Karena mencoret-coret adalah awal dari ekspresi kreatif,
sangat penting saat ini untuk memberinya kebebasan dan tanggung jawab atas
karyanya sendiri.
7. Materi
Seni
Pada
anak usia dini, anak biasanya menggunakan alat dan bahan yang sederhana, dan
tentunya mudah dipakai pada usia anak anak. Seperti clay tanah liat yang dapat
dibentuk bentuk, menggunakan cat air secara sederhana, juga dapat dengan crayon
beraneka warna yang simple dan mudah digunakan saat mencoret coret dikertas
ataupun pada dinding.
B.
Masa
Prabagan
Masa
Pra Bagan (Pre Schematic Period)
1. Pentingnya
Tahap Preschematic
Pada
tahap ini, usia 4-7 tahun telah mengalami akhir daripada masa mencoreng yang
mulai menamai coretan dan mengkomunikasikan secra visual kepada orang
disekitarnya secara sederhana. Dengan itu perkembangan pada tahap ini juga
sangat penting. Saat ini anak mulai membuat relasi dengan sekitanya. Pada tahap
ini, perilaku kebiasaan mencoreng perlahan akahn hilang kemudian mulai
mengkaitkan dengan linkungan disekitarnya dan mulai membentuk tanda dan gambar
yang jelas. Karena ini memberikan perasaan yang menyenangkan kepada anak.
2. Karakteristik
Gambar Masa Pra Bagan (Pre Schematic)
Usia
anak pada tahap ini biasanya berada pada jenjang PAUD/TK dan Sekolah Dasar
kelas awal. Kecenderungan umum pada tahap ini, obyek yang digambar anak
biasanya berupa gambar kepala-berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan
kepala, kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua
kaki.
Ciri-ciri
yang menarik lainnya, pada tahap ini anak telah menggunakan bentuk-bentuk dasar
geometris untuk memberi kesan obyek dari dunia sekitarnya. Koordinasi tangan
lebih berkembang. Aspek warna belum ada hubungan tertentu dengan obyek, orang
bisa saja berwarna biru, merah, coklat, atau warna lain yang anak kehendaki.
Penempatan
dan ukuran obyek bersifat subyektif, didasarkan kepada kepentingannya. Jika
obyek gambar lebih dikenalinya, seperti ayah dan ibu, maka gambar dibuat lebih
besar dari yang lainnya. Hal ini dinamakan dengan perspektif batin. Penempatan
obyek dan penguasaan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.
Pada
tahap ini anak mampu menjelajah hubungan antara menggambar, berpikir, dan
kenyataan. Secara garis besar karakteristik tahap pra-skematik adalah sebagai
berikut.
a. Dilakukan oleh anak yang berusia 4 – 7
tahun.
b. Anak, dalam memilih warna, tidak berdasarkan
kenyataan tetapi berdasarkan warna kesukaannya.
c. Anak menggambar orang dalam format yang
sederhana dengan menonjolkan ciri utama, misalnya mata dan rambut.
d. Gambar orang yang dibuat anak seperti
kecebong, kepala berukuran besar, badan kecil kurus dan tangan yang panjang.
e. Objek yang digambar mengambang, tidak
digambar sesuatu di mana objek tadi berada, misalnya tanah, lantai, meja, dst.
f. Anak menggambar “dengan sinar X”, seolah-olah isi rumah terlihat
semua dari luar meskipun ada dindingnya.. Misalnya gambar rumah terlihat pula
isinya seperti meja – kursi, almar, tempat tidur, dst.
3. Makna
daripada Warna
Selama
tahap usaha representasi pertama, minat dan kegembiraan yang lebih tinggi
dirangsang melalui hubungan gambar ke objek daripada antara warna dan objek. Anak
telah mulai secara sadar menciptakan bentuk dan bentuk itulah yang menjadi
penting. Ini tidak berarti bahwa anak-anak di tahap preschematic tidak sadar
akan warna, tapi ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk membuat bentuk pilihan
mereka sendiri mendominasi pemikiran mereka. Dalam menggambar dan melukis yang
dilakukan oleh anak-anak usia tiga ini seringkali sedikit hubungan antara warna
yang dipilih untuk melukis objek dan objek yang diwakili. Ini tidak berarti
bahwa warna ini tidak memiliki arti penting bagi anak yang menggunakannya. 
Bagi
anak-anak seusia ini, penggunaan warna bisa menjadi pengalaman seru. Meskipun
anak tersebut tidak memiliki keinginan untuk hubungan warna yang tepat, ia
dapat dan menikmati penggunaan warna demi kepentingannya sendiri.
4. Arti
Ruang
Representasi
ruang dalam gambar atau lukisan oleh seniman dewasa berbeda secara luas, tidak
hanya bergantung pada seniman individual tetapi juga pada budaya di mana ia
menemukan dirinya sendiri. Gambar seorang anak di tingkat representasi pertama
menunjukkan konsep ruang yang sangat berbeda dari yang dimiliki orang dewasa.
Ketidakmampuan
anak untuk saling berhubungan satu sama lain pada suatu ruang, dalam gambarnya,
adalah indikasi yang jelas bahwa dia belum siap untuk bekerja sama secara sosial
dan bahwa dia tidak memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu sama lain untuk
dipelajari untuk dibaca.
Untuk
mencoba setiap anak seusia ini konsep representasi ruang dewasa tidak hanya
membingungkan, tapi sebenarnya bisa merusak kepercayaan anak terhadap karya
kreatifnya sendiri. Tidak akan ada pemahaman bahwa representasi itu selain
benar. Konsep anak tentang lingkungannya sama validnya dengan kebiasaan orang
dewasa.
5. Perkembangan
Anak Usia Empat hingga Tujuh Tahun
Perkembangan
anak sangat berbeda beda pada usia ini. Setiap anak adalah sebuah produk dari
latar belakang yang berbeda beda, tentunya orang tua dan lingkungan juga
berbeda. Pada suatu penelitian di Findland, telah ditemukan bahwa orang tea
yang memiliki ketertarikan pada seni dan kreatifitas memiliki pengaruh yang sangat tinggi kepada
anak, keluwesan, dan keaslian. Menurut literatur psikologis bahwa usia ini
adalah waktu yang tepat untuk perkembangan intelektual yang baik, dukungan dari
hubungan keluarga yang harmonis, dan bahkan pengaruh makanan bergizi dapat
mempengaruhi energi anak dan perilaku anak saat ini.
Kita
dapat berharap bahwa seni anak akan mengikuti pola perkembangan yang sama
dengan aspek pertumbuhan lainnya. Sebenarnya, penelitian tentang gambar
anak-anak dapat memberi kita wawasan besar tentang metode dan penalaran di
balik tindakannya. Mungkin juga untuk menyebutkan bahwa meskipun ada
kecenderungan umum dan jalur perkembangan yang dapat diprediksi dengan jelas
yang terlihat dalam gambar, ini tidak datang secara otomatis. Sebaliknya,
berkembang dalam percikan, dan terkadang anak-anak akan kembali ke tahap awal.
Tidak semua pertumbuhan berjalan dengan lancar.
6. Gambar
Pre Schematic sebagai Cerminan Pertumbuhan
Menggambar
adalah latihan yang jauh lebih menyenangkan. Ini berarti dengan mana dia
mengembangkan hubungan dan membuat konkret beberapa pemikiran samar yang
mungkin penting baginya. menggambar menjadi dirinya sendiri pengalaman belajar.
Meskipun anak-anak dapat mengenali dan memberi nama banyak benda di sekitar
mereka, objek ini bisa jadi agak sesuai dengan pemikiran fungsional anak. Satu
studi mencoba membandingkan bagaimana anak berusia lima tahun mengenali lengan
dan kaki yang hilang atau cacat pada gambar orang yang tidak lengkap.
Seorang
anak yang telah mencapai usia kronologis empat atau lima tahun dan masih
berpikir dalam gerakan yang tidak meningkat secara intelektual ke tahap
pertumbuhan rata-rata. Dalam melihat lebih dari serangkaian gambar oleh anak
berusia lima tahun, biasanya kita akan mengeksploitasi beberapa usaha
representasional. Semakin banyak percobaan ini, semakin tinggi proses
intelektual yang telah dikembangkan.
Gambar
mencerminkan perkembangan anak dengan jujur, tapi terkadang orang dewasa bisa
disesatkan oleh kata-kata yang digunakan anak-anak. Ini adalah usia ketika pola
perilaku awal terbentuk dimana seorang anak dapat berkembang menjadi orang
dewasa yang kreatif atau dengan mana ia dapat mengembangkan ketergantungan
dalam pemikirannya.
7. Motivasi
Seni
Baynak
motivasi yang membuat pengalaman seni lebih banyak melebihihanya sekadar
aktivitas., ini dapat meningkatkan pula kesadaran anak terhadap lingkungan
sekitarnya dan membuat anak merasakan bahwa seni dan kegiatannya adalah hal
yang peting dan diperlukan. Pada suatu studi bahwa motivasi seni ini adalh
bentuk potensi perkembangan anak untuk mengenal dan sadar dengan kondisi
disekitarnya. Pada studi lain juga yang menyatakan bahwa pentingnya peran guru
dan pendidik sebagai pendukung perkembangan si anak. Seperti misalkan pada anak
usia empat tahun yang sulit untuk mengidentifikasi benda disekitarnya, namun
oleh karena adanya pendidik makan seorang guru atau orang tua akan membantu
pola pikir anak untuk mengidentifikasi benda yang ada pada sekelilingnya
tersebut. Pada usia ini juga kemampuan perseptual anak sedang berkembang, dan
seni turut mengokong perkembangan tersebut. Pada pembelajaran mengenai motivasi
anak dapat secara aktif melibatkan pengalaman yang nyata kepada anak. Sebuah
motivasi yang didasarkan terutama pada mengingat sesuatu di mana semua anak
didik telah dilibatkan harus memberi kesempatan kepada setiap anak untuk
mengungkapkan perasaan dan emosinya sendiri dengan caranya sendiri.
8. Materi
Pembelajaran
Yang
paling penting pada pemilihan ide atau topic sebuah pembelajaran bagi anak
adalah makna daripada sebuah aktivitas yang dilakukan anak. Pada masa
pertembuhuan usia ini harus lebih mempekakan anak pada kesadaran terhadap
lingkungan disekitarnya. Pengembangan pola ini perlu menjadi materi
pembelajaran pada anak. Pada pembelajaran ini mebuat ank menjadi termotivasi
untuk berimajinasi. Bukan hanya itu, juga anak dapat mengembangkan apa yang ia
sadari disekitarnya, seperti menggambar kucing peliharaannya, mobil yang
dikedarai ayahnya, dan sebagainya. Materi seni dapat mengembangkan satu dengan
yang lainnya, terutam pada pengalaman nyata seni anak. Dan penggunaan bahan
seni sebagai bahan pokok harus dilakukan dengan cara mengeksplorasi dan
bereksperimen dengan berbagai kualitas cat tanah liat, tempera, atau bahan
bahan lainnya.
C.
Masa
Bagan
Pentingnya Tahap Skema
Setelah banyak bereksperimen, anak muda
tersebut sampai pada konsep pasti tentang manusia dan lingkungannya. Meskipun
ada gambar representatif yang bisa disebut skema, atau simbol, dari objek
nyata, di sini kita menyebut chema sebagai konsep yang telah diimpikan dan
diulang berulang-ulang setiap kali tidak ada pengalaman yang disengaja yang
menyebabkan perubahan simbol ini. Perbedaan dalam schemata tergantung pada
banyak hal, tapi sama seperti tidak ada dua anak yang sama, kita menemukan
bahwa tidak ada schemata yang identik.
Gambaran mental yang dimiliki seorang
anak terhadap benda-benda di lingkungannya adalah hasil dari proses
berpikirnya; Gambar yang kita lihat di atas kertas adalah simbol citra mental
itu, simbol yang berdiri untuk objek itu. Produk aretnya, kemudian, merupakan
indikasi cara dia menafsirkan dan memahami informasi. Skema mengacu pada ruang
dan gambar seperti objek. Meski tahap skematik biasanya dimulai pada usia tujuh
tahun, beberapa anak akan mengembangkan skema lebih awal dari pada hal-hal
tertentu, seperti orang, sedangkan anak-anak lain akan tetap berada dalam tahap
preschematic.
Karakteristik Gambar Schematics
Pada usia sekitar tujuh tahun, gambar
sosok manusia oleh anak harus menjadi simbol yang mudah dikenali. Anak akan
memotret bagian tubuh tergantung pada pengetahuan aktifnya tentang mereka.
Tidak hanya akan ada kepala, badan, lengan, dan kaki, tapi juga beberapa aneka
ragam fitur. Biasanya anak memasukkan simbol terpisah untuk tangan dan bahkan
jari dan tentu saja simbol yang berbeda untuk kaki. Skema ususally terdiri dari
bentuk geometris, dan bila dipisahkan dari wholde ini kehilangan maknanya.
Terkadang oval, segitiga, kotak, lingkaran, persegi panjang, atau bentuk tidak
beraturan digunakan sebagai skema untuk tubuh, meskipun segala macam bentuk
digunakan untuk kaki, lengan, dan pakaian.
1. Skema ruang
Sekarang ada kesadaran sadar akan tatanan
hubungan antariksa yang pasti. Seorang anak sekarang berpikir "Saya di
tanah, mobil ada di tanah, mobil ada di tanah, kita semua ada di tanah."
Hal ini diungkapkan oleh sebuah simbol yang disebut garis dasar. Garis dasar
muncul sebagai indikasi realisasi anak tentang hubungan antara dirinya dan
lingkungannya. Garis ini tampaknya mewakili tidak hanya tanah tempat
benda-benda berdiri tetapi bisa mewakili lantai, jalan, atau dasar dimana anak
dengan benda-benda muncul di sepanjang garis. Dalam produk kreatif budaya
primitif, garis dasar sering digunakan sebagai menas untuk menunjukkan gerakan.
Mungkin oirigin dari garis dasar itu
Pengalaman
kinestetik bergerak di sepanjang jalan. Penggunaan garis dasar ia juga sangat
terlihat dalam seni beberapa budaya kompleks, seperti pada ukiran pada makam
kuno
2. Garis Dasar sebagai Bagian dari Lansekap
Saat anak menggambar atau melukis gambar
di luar ruangan, garis dasar dapat digunakan untuk melambangkan dasar tempat
benda berdiri dan di lain waktu untuk mewakili permukaan bentang alam. Ketika
anak-anak dalam tahap skematik ini menggambar sebuah bangunan, cerobong asap
biasanya digambar tegak lurus dengan garis atap, yang berfungsi sebagai garis
dasar, sama seperti garis gunung menjadi garis dasar.
3. Sarana lain dari keterwakilan ruang
Meskipun garis dasar ususally mewakili
ruang dalam gambar dan lukisan, terkadang ada pengalaman yang berarti yang
mendorong anak untuk menyimpang dari tipe shcema ini. Ini adalah konsep ruang
subjektif dengan menggambar benda yang tampak terbalik. Pengalaman ini
menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ini adalah keuntungan jika anak bekerja
di lantai atau meja rendah, sehingga gambar atau lukisan bisa didekati dari
segala arah. Terkadang anak tidak akan menggunakan garis dasar sebagai ground,
melainkan meletakkan benda atau orang dalam lingkaran, seperti disekitar meja.
4. Gambar X-ray
Seorang anak dapat menggunakan cara
representasi menarik dan nonvisual lainnya untuk menunjukkan pandangan yang
berbeda yang tidak dapat dilihat pada saat bersamaan. Dia menggambarkan bagian
dalam dan luar buliding atau kandang lainnya secara bersamaan kapan pun bagian
dalamnya lebih penting. Rupanya tidak menyadari ketidakmungkinan konsep visual
semacam itu, ia mencampur bagian dalam dan bagian luarnya dalam gambarnya.
Terkadang anak bisa jadi sangat terlibat dengan bagian dalamnya sehingga ia
akan memperlakukan bagian luarnya seolah-olah transparan.
5. Ruang dan Waktu Representasi
Penyajian ruang dan waktu termasuk dalam
satu gambar dengan urutan waktu yang berbeda atau kesan distal secara sabar.
Sama seperti seorang anak menciptakan cara untuk menampilkan benda dua dan tiga
dimensi, terkadang dengan menggunakan rencana dan ketinggian pada tmie yang
sama, maka ia juga menciptakan cara untuk menunjukkan kejadian yang terjadi
secara berurutan. Salah satu tujuan representasi ruang-waktu adalah komunikasi.
Seorang anak suka mendengarkan dan bercerita. Inilah salah satu alasan beberapa
episode diwakili dalam satu urutan gambar. Menempatkan berbagai aspek
pengalaman paktekal di samping satu sama lain dalam satu ruang adalah metode
untuk menggambarkan kualitas khasnya.
6. Signifikansi Variasi dalam Skema
Jika
skema adalah konsep manusia dan lingkungan yang telah dikembangkan anak, maka
setiap penyimpangan memiliki kepentingan khusus. Jarang skema dasar itu sendiri
berubah, namun variasi sering terlihat pada bagian atau bagian. Bentuk prinsip
penyimpangan adalah: (1) melebih-lebihkan bagian-bagian penting (2) mengabaikan
kelalaian bagian yang tidak penting atau yang ditekan; dan (3) perubahan simbol
untuk bagian signifikan.
Arti Warna dan Desain
Anak menemukan secara alami bahwa ada
hubungan antara warna dan objek. Bukan lagi pilihan acak atau hubungan
emosional yang menentukan warna mana yang dia pilih untuk objek dalam
lukisannya. Penentuan warna pasti untuk sebuah benda dan pengulangannya yang
konstan adalah bagian dari pengembangan proses berpikir anak yang terus
berlanjut. Meskipun ada warna umum yang digunakan oleh kebanyakan anak untuk
objek tertentu, setiap anak mengembangkan hubungan warnanya sendiri. Asal usul
shcema warna individu mungkin ditemukan dalam konsep warna visual atau
emosional. Ternyata, hubungan bermakna pertama yang dimiliki anak dengan benda
bisa menentukan warna shcema-nya.
Perkembangan Anak Sekolah Dasar
Gambar mencerminkan keberadaan total
anak; munculnya shcema pasti memiliki banyak implikasi dan dapat memberi
pemahaman kepada orang dewasa beberapa wawasan berharga mengenai perkembangan
anak. Anak tidak lagi mewakili objek dalam kaitannya dengan dirinya sendiri
tapi sekarang mulai mewakili objek dalam beberapa hubungan logis satu sama
lain. Sebelum pengembangan skema bukan merupakan masa untuk permainan
kooperatif. Kesadaran akan orang lain dan perasaan orang lain tidak akan bisa
dipahami. Mungkin saja sejumlah besar waktu terbuang sia-sia di tingkat taman
kanak-kanak dalam usaha menjaga ketertiban dan ketenangan, karena pembelajaran
sejati ternyata terjadi kapan pun anak mengekspresikan dirinya, mengapa orang
lain mendengarkan atau tidak.
Skema Gambar sebagai Refleksi Pertumbuhan
Dalam
kelas mana pun kita menemukan perbedaan individual yang besar. Tidaklah lazim
dalam bidang pengembangan intelektual untuk memiliki kelas kelas tiga yang
terdiri dari anak-anak yang IQnya berkisar antara 75 sampai 125. Ini berarti
pada dasarnya usia mental anak-anak ini akan berkisar dari tingkat enam tahun
sampai tingkat sepuluh tahun. Salah satu indikasi perkembangan intelektual anak
adalah pemahamannya terhadap dunia yang mengelilinginya. Benda mungkin bermakna
atau tidak berarti bagi anak, tergantung hubungannya dengan mereka dan
pemahaman intelektualnya terhadap anak tersebut. Area pertumbuhan emosi
seringkali terbengkalai di dalam kelas. Seorang anak yang telah menyakiti
jarinya biasanya mendapat segera
perhatian
dari guru dan sering dari perawat atau bahkan dokter. Seorang anak dengan
perasaan terluka, bagaimanapun, biasanya tidak memiliki siapa pun untuk meminta
pertolongan untuk memperbaiki luka-lukanya. Kesempatan untuk mengungkapkan
secara sosial dapat diterima perasaan kemarahan, ketakutan, dan bahkan
kebencian tidak hanya menghasilkan pelepasan beberapa pelepasan tetapi juga
memungkinkan anak tersebut untuk mengetahui bahwa penggunaan konstruktif dapat
dilakukan dari keterlibatan emosional seseorang. Ketika sebuah skema digunakan
dengan cara yang kaku, itu sebenarnya bisa menjadi pelarian dari menghadapi
perasaan dan emosi seseorang. Di sisi lain, penggunaan skema yang fleksibel
merupakan syarat penting untuk ekspresi diri sejati. Mereka sangat menyukai
skema, simbol anak yang digunakan berulang-ulang kapan pun dia membutuhkannya,
membuatnya sangat berbahaya untuk dianggap sebagai streotype yang diulang tanpa
pribadi selama periode ini. Seni tidak hanya menyediakan kesempatan untuk
melepaskan emosi secara konstruktif. Pertumbuhan sosial anak juga bisa dilihat
pada produksi kreatif mereka. Anak menjadi kurang egois dan lebih sadar akan
dirinya sendiri secara objektif; Penggunaan garis dasar menandakan bahwa dia
mulai melihat dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain. Yang terkait di
sini adalah perkembangan anak dalam perkembangan perseptual. Perumusan secara
simbolis dari suatu benda menunjukkan sedikit kesadaran persepsi. Menjelang
akhir tahap skematis ini, gambar anak-anak semakin dipengaruhi oleh persepsi
visualnya tentang lingkungannya. Sampai taraf tertentu pertumbuhan fisik pun
bisa terlihat pada produksi anak-anak. Seorang anak yang aktif jauh lebih
mungkin untuk memberi gambaran gerakan dan tindakannya daripada anak yang
kekurangan energi fisik; pelebaran terus menerus dari bagian tubuh yang sama
mungkin menunjukkan beberapa cacat. Anak-anak sekarang lebih mampu menangani
materi seni secara efektif; Harus ada sedikit kekhawatiran tentang cat yang
tumpah, dan anak muda akan ingin menggunakan detalis yang lebih kecil dalam lukisan
mereka. Pertumbuhan Aeshtetci tidak dimulai pada usia tertentu. Kapan pun benda
atau bentuk menunjukkan keterpaduan pemikiran, perasaan dan persepsi, anak-anak
tersebut telah mengembangkan kesadaran aeshtetic baik secara sengaja maupun
tidak sadar. Anak itu tidak memiliki aturan estetika, yang bagaimanapun juga
berubah karena nilai-nilai masyarakat berubah. Ini adalah efek dari pengalaman
dan proses seni selama indivual, bukan produk akhir, yang berkontribusi
terhadap pertumbuhan estetika.
Motivasi Seni
Jenis dan jenis motivasi yang digunakan
guru pada tingkat usia yang berbeda tumbuh dari kebutuhan anak-anak selama
setiap tahap perkembangan yang partiikular. Yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk menciptakan suasana yang menarik yang fleksibel dan terbuka
terhadap saran dari anak. Setiap motivasi harus membuat anak lebih sadar
terhadap dirinya dan lingkungannya, harus mengembangkan dan merangsang
keinginan yang kuat untuk melukiskan gambaran yang berarti, dan harus
mengembangkan dan merangsang keinginan yang kuat untuk melukis gambar yang
bermakna dan materi pelajaran. Penting dalam motivasi seperti ini untuk
memastikan bahwa setiap anak adalah anak
the
oppportunity to identify with his own particular interests. Each child should
feel that the motivation wa planned just for him.
Materi pelajaran
Idealnya, tidak ada pokok bahasan yang
harus dibutuhkan jika setiap anak menggambar, melukis, dan menyusun apa yang
penting baginya, dan jika ia bebas dari tekanan eksternal untuk dilakukan
dengan cara tertentu. Namun, masyarakat kita dipenuhi dengan pesan dari guru,
orang tua, teman sebaya, televisi, dan radio untuk berperilaku dengan cara
tertentu. Satu bidang materi pelajaran lain yang harus diperhatikan adalah
topik dari materi itu sendiri. Alasan utama berkonsentrasi pada mahakarya
adalah memastikan bahwa anak menggunakan bahan dengan cara yang fleksibel dan
memiliki kesempatan untuk menyelidiki kemungkinan mereka.
Bahan seni
Pemilihan bahan seni, relevansinya dengan
kebutuhan khusus anak-anak dan kebutuhan mereka pada waktu tertentu, dan
persiapan dan penanganannya merupakan pertimbangan penting. Setiap bahan seni
harus memudahkan ekspresi diri anak dan tidak menjadi batu sandungan. Tiga hal
penting dalam mengembangkan metode kerja dengan bahan. Pertama, guru harus tahu
setiap anak harus mengembangkan tekniknya sendiri, dan setiap
"pertolongan" dari guru menunjukkan anak itu "yang benar"
hanya akan membatasi pendekatan individual anak. Kedua, setiap materi harus
memberikan kontribusinya sendiri. Jika tugas bisa dilakukan dengan bahan seni
yang berbeda dengan efek yang lebih baik, bahan yang salah telah digunakan.
Ketiga, guru seharusnya tidak memaksakan terlalu banyak bahan pada anak. Dalam
beberapa buku tentang pendidikan seni, banyak materi diperkenalkan dan
digunakan sejak awal masa kanak-kanak. Anak yang usianya tujuh sampai sembilan
tahun tidak memperhatikan representasi jarak.
D.
Masa
Realisme Awal
Pentingnya Era Gang
Salah satu karakteristik yang menonjol
dari usia perkembangan ini adalah penemuan anak bahwa ia adalah anggota
masyarakat, sebuah masyarakat dari rekan-rekannya. Penemuan memiliki minat yang
sama, berbagi rahasia, kesenangan melakukan sesuatu bersama, semuanya mendasar.
Usia ini adalah waktu untuk kelompok teman dan kelompok sebaya atau geng. Ini
adalah bagian penting dari proses perkembangan dan merupakan langkah penting
dalam interaksi sosial. Peningkatan ukuran anak, keterampilan, dan kekuatan memberi
kesempatan bagi mereka untuk menjadi lebih mandiri. Nilai kelima mungkin
memiliki banyak kemampuan, dengan beberapa anak membaca kelas tiga dan yang
lainnya di kelas tujuh. Seorang anak muda pada usia ini semakin sadar akan
dunia nyata jawa yang penuh dengan emosi, tapi emosi, yang tersembunyi dari
orang dewasa. Terkadang ada kebingungan dalam penggunaan istilah realisme.
Seringkali itu comfused dengan istilah naturalisme. Namun, istilah-istilah ini
bisa menjadi self-explainatory, jadi lng seperti yang diingat bahwa naturalisme
mengacu langsung pada alam dan ralisme mengacu pada apa yang nyata.
Karakteristik Gambar Selama Era Gang
Bagi anak, usia ini mungkin merupakan
periode penemuan yang paling dramatis dan sehat, seperti yang dapat terlihat
dengan jelas dalam karya kreatifnya. Skema ini tidak lagi memadai untuk
mewakili sosok manusia seperti yang diungkapkan selama tahap skematis
sebelumnya adalah ekspresi umum seseorang. Sekarang, namun bentuk geometris
tidak lagi mencukupi saat anak tersebut bergerak ke bentuk ekspresi yang
sifatnya lebih dekat. Tapi si anak masih jauh dari representasi visual.
Meskipun pada usia sembilan tahun kebanyakan anak masih membesar-besarkan
ukuran sosok manusia, penelitian telah menunjukkan bahwa pembesar-besaran ini cenderung
hilang selama tahap perkembangan ini. Anak mulai mengganti cara ekspresi
lainnya untuk menunjukkan penekanan, seperti akumulasi rincian pada
bagian-bagian yang signifikan.
1. Arti Warna
Ada konsistensi dalam cara ekspresi
chages. Anak bergerak dari hubungan benda-benda yang kaku dengan realisasi
sifat-sifat warna. Sekarang dia membedakan antara sweter builsh-merah dan
sweter biru yeloowish. Semakin dekat seorang anak datang ke hubungan visual
antara warna dan objek, semakin banyak guru yang tergoda untuk menyalahgunakan
rasa draing terhadap warna naturalistik dengan mengajarkan cara memilih dan
menerapkan warna. Selama tahap ini, sembilan sampai dua belas, anak itu secara
bertahap bergerak menjauh dari depenency-nya di atas beton. Dia sekarang mulai
menangani dengan konsep yang tidak jelas. Dia sekarang dapat melakukan lebih
banyak dalam gambar-gambarnya daripada menempatkan benda-benda secara beruntun
seperti yang kita lihat pada tahap perkembangan sebelumnya. Hanya kesadaran
diri dan lingkungan yang lebih besar membuat seorang anak menyadari bahwa
bentuk geometris tidak memadai untuk mengekspresikan figur manusia,
representasi ruang menunjukkan adanya perubahan dari penggunaan simbol garis
dasar secara simbolis ke representasi yang lebih naturalistik. Untuk sebagian
besar, sebelum usia ini, anak-anak hanya memiliki sedikit pemahaman tentang
peta, terutama peta geografis negara-negara asing. Anak ts ageis sekarang mulai
berpikir secara sosial, mempertimbangkan pemikiran dan pendapat orang lain, tapi
ini adalah pergeseran lambat dari pemikiran egosentris. Seiring anak-anak
sekarang menemukan lingkungan yang berarti dan mulai menghubungkannya dengan
tema, sangat penting bagi pendidikan untuk memberi mereka perasaan tentang apa
yang jujur di lingkungan kita, yaitu apa yang tidak tulus dan meniru. Ketulusan
keindahan yang ditemukan di alam harus ditekankan, karena ini merupakan
perpanjangan alami dari arah anak pada usia ini. Mungkin tampak seolah-olah
penekanan yang tidak semestinya ditempatkan pada pengetahuan dan pemahaman
material, sementara area desain mungkin tampak dilewati. Gambar dan lukisan
oleh anak-anak di stae pembangunan mulai menunjukkan dekorasi. Kesadaran akan
pola dan dekorasi yang berkembang ini tidak memberikan tipu daya untuk pengajaran
desain formal.
Perkembangan Anak Gila
Selama tahap ini anak mulai mengembangkan
kesadaran dan kepekaan yang lebih besar terhadap lingkungannya. Dia telah
bertanya-tanya mengapa segala sesuatunya bekerja seperti mereka, dan tentang
keberadaan diri ini sendiri. Ini juga merupakan masa ketika anak mulai
mengembangkan konsep diri, pemahaman tentang tema sebagai individu mandiri.
Pada usia ini anak-anak belum memiliki kontrol penuh atas emosi mereka, dan
seringkali kejadian yang tampaknya kecil akan sangat penting bagi seorang
pemuda. Intensitas perasaan ini dapat dimanfaatkan dalam program seni. Hubungan
emosi seorang anak berkembang dengan berbagai segmen lingkungannya dapat sering
diungkapkan secara langsung atau simbolis.
Gambar Gangga Umur sebagai Pertumbuhan
Refleksi
Kemampuan
untuk melepaskan diri dari skema dan untuk merasakan dan memperhatikan
variabilitas dalam lingkungan khas dari usia ini. Anak-anak kadang-kadang
kritis terhadap gambar jika ini tidak sesuai dengan interpretasi mereka sendiri
tentang apa yang nyata. Naturalisme bukanlah anak kuda utama pada usia ini,
karena inilah ususally yang tidak berusaha menunjukkan efek cahaya dan
bayangan, atmosfer, efek atau bahkan refleksi warna atau lipatan pada kain.
Bagi beberapa guru, pertumbuhan intelektual hanya berkonotasi pada kemampuan
membaca iklan matematika. Anak kelas empat weer diberi beberapa tugas seriasi
yang mengharuskan mereka mengatur lingkaran berwarna dalam susunan persegi
panjang sesuai dengan ukuran yang meningkat dalam satu arah dan warna.
perbedaan pesanan. Pertumbuhan sosial, selama periode ini, adalah salah satu
aspek pembangunan yang luar biasa, namun bila ada sesuatu yang mengganggu
perasaan baru kepemilikan sosial, anak tersebut dapat menarik diri dan tetap
menjadi orang luar. Kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok
dapat segera terlihat saat anak bekerja bersama di atas mural. Sudah jelas
bahwa perubahan dalam menggambar dan melukis akan terjadi secara alami ketika
seorang anak telah mengalami interaksi yang lebih besar dalam aktivitas
kelompok. Salah satu bidang pertumbuhan terpenting yang dapat disumbangkan seni
adalah pertumbuhan kreatif. Selama tahap perkembangan ini ada cita rasa tekanan
yang luar biasa bagi anak-anak agar tidak hanya sesuai dengan keinginan orang
dewasa, tapi juga tuntutan kelompok tersebut.
Motivasi Seni
Orang
dewasa sering memiliki kenangan menyenangkan masa kecil. Namun, sebagian besar
kenangan ini ada kejadian dan situasi di luar sekolah. Mungkin kita
masing-masing memiliki kenangan akan masa-masa ini. Motivasi sekarang harus
memanfaatkan anak muda. Greaer mandiri untuk memberi dukungan pada harga diri
mereka. Pengalaman seni harus memberi kesempatan untuk mengungkapkan kesadaran
seks yang terus meningkat, untuk mengembangkan kesadaran akan rak yang lebih
besar, dan untuk memuaskan keingintahuan baru tentang lingkungan. Metode
koopertasi kedua atau obyektif lebih berhubungan secara langsung dengan
kelompok pekerjaan itu sendiri. Seluruh kelompok mengerjakan satu proyek. Disini
juga jenis motivasi akan menentukan keberhasilannya. Peran guru adalah tindakan
bawahan dalam tindakan ini. Dia adalah katalisator. Ini adalah tugas yang jauh
lebih sulit untuk merangsang dan mendorong anak-anak untuk belajar,
berproduksi, dan mengeksplorasi dengan sendirinya. Metode pembuatan produk yang
lebih mudah adalah dengan memberikan tugas secara otoritatif dan memiliki
metode "terbaik" untuk mencapai hasil yang telah dilakukan
sebelumnya.
Materi pelajaran
Subjek adalah hubungan subjektif manusia
dengan perkembangannya. Seiring perubahan anak, begitu pula ekspresi seni.
Saran berikut didasarkan pada karakteristik khusus dari tingkat perkembangan
ini. Untuk merangsang vooperasi subyektif, untuk mengembangkan perasaan menjadi
bagian dari kelompok dan untuk mengidentifikasi dengan aktivitas kelompok.
Dengan hilangnya garis dasar, kesempatan yang luas harus diberikan pada
anak-anak untuk mengeksplorasi kemungkinan penggunaan pesawat terbang. Ada
banyak bidang materi pelajaran yang terkait dengan pengembangan keterampilan
dan meningkatnya keakraban dengan sifat material. Ada satu hal penting yang
sangat penting yang ada dalam masing-masing chlid. Dalam beberapa kasus,
masalah ini mungkin sangat jelas seperti cinta seorang anak untuk bekerja dengan
peralatan. Terkadang, bagaimanapun, itu bisa disembunyikan di bawah permukaan,
seperti pada penolakan penolakan yang tenang.
Bahan seni
Anak tersebut telah mengembangkan
penggunaan bentuk geometris dan representasi garis dasar. Karena mereka lebih
peduli dengan detail dulu, beberapa anak akan ingin menggunakan sikat rambut
disamping sikat britsle. Materi bagus hanya jika memberi kontribusi pada
kebutuhan anak-anak dan membantu mengungkapkan niat mereka. Meskipun ada materi
tak terbatas yang tersedia untuk penggunaan anak-anak, harus diperhatikan bahwa
mereka yang memilih meminjamkan tema untuk diungkapkan dan tidak membatasi
keaslian anak-anak. Kertas berwarna adalah bahan dasar untuk usia ini, ia
menyediakan sarana alami untuk tumpang tindih dan merupakan bahan yang tepat
untuk tahap awal kerja sama melalui proyek.
E.
Seni
dalam Sekolah Menengah Pertama
1.
Peran
Seni
Seni bisa jadi sikap terhadap kehidupan,
memformulakan perasaan dan emosi serta memberi mereka ekspresi yang berwujud.
Kelas seni dalam sekolah negeri saat ini difokuskan pada hasil karya dibanding
perkembangan sikap artistik.
Kurikulum yang biasa diterapkan dibagi menjadi
segmen materi pelajaran yang kecil, dan segmen tersebut biasanya dibenarkan
pada persiapan kejurusan atau pendidikan dasar. Ada istilah bahwa “IPA adalah
segala jawaban” yang menempati titik berat dan ketergantungan pada teknologi.
Hal ini berarti, ekspresi anak akan terhambat. Justru Sei menjadi wadah sistem
sekolah dimana perkembangan perasaan dan emosi dituangkan dengan pengenalan
yang tepat.
2.
Perubahan
psikologi dari Sekolah dasar ke Sekolah Menengah Pertama
Pada saat sekolah dasar, anak menggambar tanpa
ada larangan. Saat naik kelas 4, 5, terutama 6, anak menjadi lebih was-was akan
hasil karyanya. Kemudian naik kelas 7, sikap kritis mulai menonjol. Merekapun
sadar akan keterbatasannya diantara teman-temannya. Mereka juga mulai membantah
orang tuanya, kecewa akan sekolah dan terkadang tidak percaya diri.
Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa
banyak individu yang berhenti berkreatifitas. Anak kelas 6 biasanya akan
menutupi gambarnya saat orangtua datang. Kelas 7 lebih ingin menonjolkannya.
Namun kelompok bermain lebih bersemangat menunjukkan karyanya. Kita bisa
simpulkan bahwa, Melatih kepercayaan diri merupakan tugas penting dalam
pendidikan seni rupa, terutama dalam sekolah menengah Pertama.
Dalam penelitian menggambar “bermain
kejar-kejaran di lapangan sekolah” anak sekolah menengah pertama menggambar
figur orang senatural mungkin, lebih
proporsional, berpakaian layaknya kita sehari-hari. Gambar tersebut menunjukkan
anak dapat memahami unsur penting apa yang ada ketika kita bermain
kejar-kejaran dengan latar lapangan sekolah. Hal ini mencerminkan anak
mengalami perkembangan dalam tinkat tertenu.
Willats (1977) melakukan observasi anak usia
5-17 tahun untuk menggambar radio, box dan wajan diatas meja. Usia 9-12 mulai
mencoba berbagai cara untuk mengarsir kedalaman dan rinci dalam tumpukkan
objek, tetapi perspektif hanya digunakan oleh setengah dari usia 15 dan usia
17.
Kita dapat menyimpulkan bahwa adanya proses,
yang bertanggung jawab untuk berbagai metode penggambaran.
3.
Pentingnya
Identifikasi Diri
Untuk menyelesaikan masalah dan tujuan untuk
diri sendiri, bertanggung jawab untuk pengarahan metode ekspresi, adalah
pertimbangan penting dalam pengembangan program seni untuk sekolah menengah
Pertama. Maka dari itu, ada baiknya, menilai hasil karya dari identifikasi si
pembuat dan emosionalnya yang terlibat.
Seni tidak membatasi karya untuk harus memiliki
nilai keindahan. Yang terpenting adalah menyediakan suasana ekspresif daripada
harus menilai selera setiap murid. Hal ini harus difokuskan pada anak yang
telah dicap “Nakal” atau yang pernah kena sanksi. Karena kebanyakan dari mereka
tidak mampu berekspresi secara kreatif. Penyaluran energi dengan kegiatan
produktif dan kesempatan untuk menidentifikasi harus dititikberatkan pada
sekolah menengah pertama.
4.
Kreatifitas
dalam Program Sekolah Menengah Pertama
Perkembangan pola pikir kreatif wajib menjadi
bahan esensial program seni rupa, fleksibilitas, keorisinilan, dan kemampuan
berfikir independen dan imajinasi tidak bisa ditinggalkan.
Tindakan sederhana yang dapat dilakukan guru
seni adalah mengikuti silabus yang berlaku dan dikembangkan program seni rupa
dengan menugaskan projek-projek yang mudah dikerjakan. Semangat untuk meneliti
dan pertumbuhan murid dalam proses eksplorasi menjadi lebih stimulan.
Studi telah menunjukkan bahwa individu lebih
mudah terpengaruh dari rekan-rekannya untuk menyesuaikan diri. Dengan kata
lain, kelompok dapat menyediakan Disamping itu, kelompok bisa menyediakan
banyak stimulasi dan mendukung pola pikir inovatif. Tekanan kelompok bisa
dimanfaatkan Jika suasananya sedemikian rupa sehingga kreativitas dihargai.
F.
Masa
Naturalisme Semu
Adalah
masa paling menarik, dimana anak mengetahui bahwa mereka sudah beranjak ke
tahap remaja. Tahap ini menjadi signifikan dan mudah dimengerti karena memasuki
transisi dunia orang dewasa.
Anak
akan menjadi menjadi lebih sadar akan hasil karyanya. Beberapa anak juga enggan
dalam menunjukkan karya mereka kepada orangtua. 70% mengindikasikan mereka
lebih menyukai hasil karya jika tercapai sedemikian rupa dengan apa yang ia
harapkan. Peran seni dalam tahap ini harus memberi dukungan terhadap individual
kalangan muda, harus tersedia penerimaan sosial untuk melepaskan emosi dan
tekanan, serta transisi dari ekspresi kekanakan menjadi pendewasaan.
1.
Rrepresentasi
Figur Manusia
Biasanya
karakteristik alat intim ditonjolkan lebih sebagai cerminan perkembangan fisik
anak. Sebaliknya, jika tidak menonjolkan hal tersebut dalam menggambar, akan
menunjukkan ketakutan terhadap perubahan.
Mulai
ada tambahan detil seperti kerutan/lipatan baju, pencahayaan, perubahan warna
dibawah atmosfir yang berbeda. Biasanya anak laki-laki lebih banyak
merepresentasikan figur manusia dengan kartun. Namun tantangan anak pada tahap
ini adalah menggambar dirinya sendiri.
2.
Representasi
Ruangan
Pada
tahap ini, terjadi pengurangan jarak antar objek. Selain itu, mereka juga sudah
mengerti tentang bangun ruang sehingga diterapkanlah pembelajaran menggambar
teknik yang difokuskan pada perspektif. Jika anak mengalami kesulitan dalam
mengerjakan tugas ini, maka ia akan mengalami kesulitan mengidentifikasi
spasial.
3.
Pentingnya
Warna dan Desain
Hal
ini sering berkaitan dengan lettering,
seperti menulis nama dengan gaya tulisan sambung. Kadang-kadang coretannya
berupa bagian tubuh yang berbentuk unik atau lebih terlihat seperti gaya psychedeic. Anak juga memiliki pemahaman
dan simpati besar terhadap alam dalam desain. Dari sini pula, anak menunjukkan
seleranya masing-masing.
4.
Motivasi
Seni
Bagaimana
anak mencari jati diri sebenarnya. Dalam pengajaran ada baiknya pada tahap ini,
guru menyediakan bimbingan dan dorongan agar ekspresi anak dapat menjadi sebuah
wujud yang utuh dan bermakna. Kemungkinan tata ruang kelas seni yang baik
adalah mengatur meja menadi beberapa kelompok kecil agar mereka bisa berdiskusi
dan saling mengevaluasi.
Perkembangan
tentu penting untuk memperkuat pola pikir individual. Oleh karena itu vital
bagi kalangan muda untuk merasakan kegiatan-kegiatan seni dengan menuangkan
ekspresi pribadinya. Salah satu tujuan untuk mengembangkan kesadarannya adalah
mengamati dirinya sendiri dan sekitarnya.
Melibatkan
anak-anak dalam pengalaman seni rupa dapat membawa ke berbagai arah. Motivasi
itu sendiri bervariasi, tergantung pada kondisi kelas, ketertarikan murid, dan
objektif guru.
Tahap
ini bukanlah untuk menyusun atau menghafal aturan yang harus diikuti; dibanding
harus menjadi kesempatan untuk mengembangkan kesadaran seni rupa sebagai aspek
kehidupan.
Anak-anak
muda yang tidak percaya diri bisa diarahkan ke patung, tanah liat, dan collage.
Agar mendorong keinginan anak untuk menciptakan sesuatu.
5.
Subjek
Penting
· Emosi
Adanya
banyak kesempatan dalam tahapan ini, untuk menuangkan perasaannya. Segala
motivasi harus digunakan se-fleksibel mungkin.
· Pribadi dan lingkungan sosial
Meningkatnya kesadaran akan perkembangan fisik
dan penasaran terhadap lawan jenis. Mengamati makhluk sosial lain bukan dari
wujudnya, tetapi dari latar belakangnya sehingga ada rasa empati.
· Kehidupan Sekolah
Jika banyak murid merasa bahwa sekolah perlu
dekorasi, maka aktivitas seni bisa bermain multi peran dalam membantu murid
untuk mengekspresikan perasaannya sekaligus melibatkan mereka dalam kegiatan
sekolah.
· Desain dan Alam
Menggambar
objek alam langsung mampu memperluas dimensi-dimensi yang bisa memberikan
wawasan tentang kualitas desain dinamis yang menakjubkan dari lingkungan
natural kita. Penemuan ruang positif dan negatif bisa menjadi poin awal untuk
eksperimen kreatif.
6.
Material
yang digunakan
Hampir
semua material dapat dikuasai walau terkadang mereka masih ceroboh dalam
menggunakannya. Material maupun berukuran besar atau kecil akan menarik
perhatiannya. Dengan meningkatkan kegunaan material yang kompleks, kerajinan
tangan mulai dikenalkan dalam tahap ini.
G.
Masa
Penentuan
1.
Pentingnya
Seni Sekolah Menengah Akhir
Pada
tahapan ini, tidak banyak yang diharapkan dari seni. Sebagian besar mereka
tidak mementingkan seni sebagaimana ketika masih kecil. Masyarakat menganggap
pelajaran seni memiliki peran minor dalam kurikulum sekolah. Seni juga bukan
pula menjadi daya tarik anak-anak pada tahapan ini.
2.
Dasar
seni dalam Sekolah Menengah Akhir
Program
dasar yang dapat melibatkan individu seutuhnya dalam proses pembuatan hasil
karya yang bermanfaat tidak untuk dia sendiri, tetapi juga untuk masyarakat.
Dengan
demikian, dasar seni dalam sekolah menengah akhir adalah kegiatan yang
bertujuan unutk melibatkan siswa seutuhnya dalam budaya dimana ia akan
menemukan hati dirnya, adanya ketersediaan pemahaman untuk menciptakan
perubahan nyata dan kesempatan untuk menghadapi kebutuhan yang diperlukan.
Struktur Program Seni
Para
siswa yang akan mengikuti program seni di sekolah menengah harus menjadi
pertimbangan pertama dalam perencanaan apapun. Sangat sedikit siswa di bidang
seni ini yang benar-benar akan melakukan sesuatu di luar sekolah dengan seni.
Mungkin salah satu elemen terpenting adalah sikap yang berlaku. Jika kursus
seni dipandang sebagai kursus akademis lain dengan kuis, ujian, dan proyek yang
akan ditandai, seni akan kehilangan signifikansi dan dampaknya pada siswa. Ada
pertanyaan serius apakah siswa SMA benar-benar belajar atau lebih banyak
belajar dari kelas seni seperti yang diajarkan saat ini. Hal ini dimungkinkan
untuk berurusan dengan seni sedemikian rupa untuk membuat program yang bermakna
dan mengasyikkan.
Kegiatan seni
Salah satu kegiatan terpenting di
kelas seni adalah kesempatan untuk melukis. Lukisan telah lama dianggap paling
bertolak belakang dari bentuk seni. Pendekatan yang sangat langsung terhadap
masalah ini adalah memperbesar konsep seni dewasa. Pastinya yang segar dan
dalam beberapa kasus lukisan tumpul beberapa seniman contenporary bisa
membangkitkan remaja hingga kemungkinan baru. Program seni harus melibatkan
siswa dalam pengalaman sekolahnya sendiri. Meskipun kadang-kadang mendengar
program di mana musik, tarian, dan drama digabungkan dengan seni, program ini
sangat sedikit. Di luar sekolah langsung mungkin daerah yang paling bermanfaat
untuk eksplorasi. Di bidang seni yang luas, sangat sedikit seniman yang
sebenarnya pelukis. Ada sedikit kesempatan di masyarakat kita untuk remaja
untuk terlibat dalam pelatihan magang atau untuk pergi lagi pemahaman tentang
jenis pekerjaan yang melibatkan orang dewasa. Seringkali orang yang lebih muda
akan bersengketa dari sekolah menengah atas tanpa melakukan lap manual lebih
banyak daripada mengasuh anak atau menyekop salju dari trotoar Bidang seni
hampir tak terbatas dalam kemungkinan.
Bahasan kemudian adalah contoh daripada tahapan tahapannya.
Sumber: Makalah Pendidikan Seni Rupa (Paper) yang disusun oleh Larasati Fildzah, Safira Khairunisa, dan Sheba Emmanuel. Universitas Negeri Jakarta.
Langganan:
Komentar (Atom)